“Tuntutan dari mahasiswa tentu sangat wajar ya sebagai bagian dari proses dan sistem demokrasi. Tentu kita ingin mendengar masukan dan saran dari berbagai macam kelompok masyarakat apalagi mahasiswa,” ujarnya.

Namun demikian, ia menilai setiap tuntutan juga perlu dilihat dari berbagai perspektif dengan mempertimbangkan data dan informasi yang tersedia.

“Di sisi yang lain, tentunya kita harus bisa memberikan perspektif data dan informasi,” lanjutnya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan sejumlah tuntutan, antara lain menghentikan pemborosan anggaran negara, menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, menghentikan militerisme di ranah sipil, hingga meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah.

Menanggapi tuntutan tersebut, Qodari menyatakan bahwa sejumlah hal yang diperjuangkan mahasiswa menurutnya sedang dijalankan oleh pemerintah.

“Yang dilakukan oleh Prabowo justru selama ini adalah menghentikan pemborosan. Pak Prabowo ini adalah figur yang paling depan memperjuangkan apa yang diperjuangkan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung kebijakan pembentukan badan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang bertujuan meningkatkan pengawasan terhadap ekspor komoditas sumber daya alam.

“Itu kan ditujukan untuk mencegah kebocoran APBN kita. Justru ini yang seyogianya didukung oleh aktivis mahasiswa,” tutur Qodari.

Menurutnya, berbagai langkah yang dilakukan pemerintah saat ini merupakan bagian dari agenda reformasi yang tengah dijalankan.

Mahasiswa Lakukan Long March

Sebelumnya, ratusan mahasiswa yang mayoritas berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) melakukan long march menuju Bundaran HI untuk mengikuti aksi unjuk rasa.