Marzuki juga menyebut, apabila program ini berjalan optimal di Kota Jambi, bukan tidak mungkin daerah tersebut akan menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Kemitraan dan Kerja Sama Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia, Yuda, mengapresiasi kerja sama yang dibangun antara Pemkot Jambi dan Pegadaian.

“Kami berharap sinergi ini tidak hanya memperkuat pengelolaan sampah, tetapi juga meningkatkan taraf hidup masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya hanya membuang sampah, kini dapat menjadikan sampah terpilah sebagai sarana investasi jangka panjang,” ujarnya.

Yuda menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan sejak 2018 dan saat ini didukung lebih dari 400 bank sampah binaan Pegadaian di berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah memilah sampah ke dalam empat kategori utama, yakni plastik, logam, kertas, dan sisa makanan. Sampah yang telah dipilah tersebut kemudian memiliki nilai ekonomi yang dapat dikonversikan menjadi tabungan emas.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Jambi, Pegadaian, Bank Sampah, TPS 3R, OPBM, dan berbagai elemen masyarakat, diharapkan terwujud sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan Kota Jambi yang bersih, sehat, dan berdaya saing melalui penguatan ekonomi sirkular berbasis partisipasi masyarakat.