Jakarta — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak lagi hanya digunakan untuk mencari informasi maupun membantu pekerjaan. Di Jepang, teknologi AI mulai dimanfaatkan sebagai tempat curhat hingga meminta saran terkait persoalan pribadi.

Temuan tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan Japan Institute for Promotion of Digital Economy and Community (JIPDEC) pada pertengahan Januari 2026.

Hasil survei menunjukkan hampir separuh perempuan lansia di Jepang lebih memilih berkonsultasi dengan AI dibanding manusia ketika menghadapi masalah hubungan interpersonal maupun konflik sosial.

Sebanyak 47,8 persen responden perempuan berusia 60 hingga 70 tahun memilih AI sebagai tempat meminta saran. Angka tersebut lebih tinggi dibanding responden yang memilih berkonsultasi dengan manusia, yakni 37,3 persen.

Temuan itu menjadi salah satu hasil paling mencolok dalam survei tersebut. Pasalnya, pada sebagian besar kelompok usia lainnya, manusia masih menjadi pilihan utama untuk meminta nasihat.

Secara umum, sebanyak 45,8 persen responden mengaku lebih nyaman meminta saran kepada manusia. Sementara 36,5 persen lainnya memilih AI karena dinilai mampu memberikan jawaban yang lebih objektif dan tidak menghakimi.

Berbeda dengan perempuan lansia, mayoritas responden laki-laki lanjut usia masih memilih manusia sebagai tempat berkonsultasi. Sebanyak 57 persen pria berusia 60 hingga 70 tahun memilih berkonsultasi dengan manusia, sedangkan hanya 25,2 persen yang memilih AI.

Mengutip Kyodo News, remaja perempuan di Jepang juga termasuk kelompok yang cukup sering menggunakan AI untuk meminta saran pribadi maupun dukungan emosional.

Associate Professor Universitas Chiba, Atsushi Nakagomi, yang meneliti hubungan AI dan kesehatan manusia, mengaku terkejut melihat kelompok perempuan lansia justru menjadi pihak yang paling terbuka dalam menggunakan AI.

Menurut Nakagomi, AI dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman untuk terbuka tanpa takut dinilai oleh orang lain.

“AI membuat orang merasa lebih nyaman untuk terbuka karena mereka bisa meminta saran tanpa khawatir bagaimana ucapan mereka dipersepsikan,” kata Nakagomi.

Fenomena ini dinilai berkaitan dengan perubahan pola sosial di Jepang yang tengah menghadapi ageing population atau populasi menua, sekaligus meningkatnya persoalan kesepian dan isolasi sosial pada lansia.

Sejumlah studi mengenai teknologi digital untuk lansia juga menemukan bahwa faktor rasa aman, kenyamanan, dan perasaan tidak dihakimi menjadi alasan penting yang membuat lansia lebih terbuka menggunakan layanan berbasis AI.

Karena itu, AI mulai dipandang bukan hanya sebagai teknologi pencari informasi, melainkan juga companion technology atau teman digital yang dapat menjadi tempat berbagi cerita tanpa tekanan sosial.

Survei JIPDEC melibatkan 1.449 responden berusia 18 hingga 79 tahun di Jepang. Temuan ini menunjukkan bagaimana AI perlahan mulai memengaruhi cara manusia mencari dukungan emosional dan tempat berbagi cerita, termasuk pada kelompok usia lanjut yang selama ini dianggap lebih dekat dengan interaksi konvensional dibanding teknologi digital.