Associate Professor Universitas Chiba, Atsushi Nakagomi, yang meneliti hubungan AI dan kesehatan manusia, mengaku terkejut melihat kelompok perempuan lansia justru menjadi pihak yang paling terbuka dalam menggunakan AI.

Menurut Nakagomi, AI dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman untuk terbuka tanpa takut dinilai oleh orang lain.

“AI membuat orang merasa lebih nyaman untuk terbuka karena mereka bisa meminta saran tanpa khawatir bagaimana ucapan mereka dipersepsikan,” kata Nakagomi.

Fenomena ini dinilai berkaitan dengan perubahan pola sosial di Jepang yang tengah menghadapi ageing population atau populasi menua, sekaligus meningkatnya persoalan kesepian dan isolasi sosial pada lansia.

Sejumlah studi mengenai teknologi digital untuk lansia juga menemukan bahwa faktor rasa aman, kenyamanan, dan perasaan tidak dihakimi menjadi alasan penting yang membuat lansia lebih terbuka menggunakan layanan berbasis AI.

Karena itu, AI mulai dipandang bukan hanya sebagai teknologi pencari informasi, melainkan juga companion technology atau teman digital yang dapat menjadi tempat berbagi cerita tanpa tekanan sosial.

Survei JIPDEC melibatkan 1.449 responden berusia 18 hingga 79 tahun di Jepang. Temuan ini menunjukkan bagaimana AI perlahan mulai memengaruhi cara manusia mencari dukungan emosional dan tempat berbagi cerita, termasuk pada kelompok usia lanjut yang selama ini dianggap lebih dekat dengan interaksi konvensional dibanding teknologi digital.