Mike menyarankan masyarakat untuk melakukan audit pengeluaran terlebih dahulu sebelum memangkas pos tertentu. Menurutnya, penting untuk memetakan mana pengeluaran yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sebenarnya hanya gaya hidup.

Ia mencontohkan makan adalah kebutuhan, tetapi frekuensi makan di restoran merupakan pilihan. Begitu pula penggunaan listrik yang masih dapat dihemat dengan penggunaan perangkat elektronik secara lebih efisien.

“Kalau kita mau melakukan penghematan, kita perlu tahu dulu mana yang sebenarnya kebutuhan dan mana yang keinginan,” katanya.

Mike juga menilai pendekatan berbasis persentase sering kali tidak cukup untuk mencapai target finansial tertentu. Karena itu, ia menyarankan penggunaan metode goal-based budgeting atau pengaturan keuangan berdasarkan tujuan.

Dalam metode tersebut, seseorang menentukan target keuangan lebih dulu, seperti membeli rumah atau menyiapkan dana pensiun. Setelah target dan jangka waktunya ditentukan, baru dihitung jumlah tabungan yang dibutuhkan setiap bulan.

“Kalau 20 persen enggak cukup berarti perlu ditambah. Jadi pendekatannya jangan persentase, tetapi berdasarkan tujuan keuangan,” ujarnya.

Penghasilan Rendah Perlu Fokus Tambah Pemasukan

Menurut Mike, masyarakat dengan penghasilan rendah juga perlu mempertimbangkan upaya meningkatkan pendapatan, misalnya melalui pelatihan keterampilan tambahan atau usaha sampingan.

Meski begitu, kebiasaan menabung tetap perlu dibangun secara bertahap sesuai kemampuan.

“Daripada target 20 persen, mulai dengan yang lebih realistis. Contoh nabung Rp50 ribu per bulan, kalau enggak sanggup ya Rp20 ribu. Intinya membangun kebiasaannya dulu,” katanya.