Menurutnya, kebutuhan hiburan masih dapat ditunda dibandingkan tabungan yang berfungsi sebagai cadangan untuk kebutuhan masa depan.

“Sebaiknya dikurangi terlebih dahulu adalah pengeluaran untuk kesenangan. Alasannya kebutuhan kesenangan sifatnya sebenarnya tidak terlalu penting dan urgent, dan masih bisa untuk ditunda konsumsinya,” katanya.

Meski demikian, Andi mengakui banyak orang justru lebih memilih mengurangi tabungan demi mempertahankan gaya hidup atau hiburan. Hal itu terjadi karena manfaat dari pengeluaran hiburan dapat dirasakan langsung, sedangkan hasil menabung baru terlihat dalam jangka panjang.

Menabung Tetap Penting Meski Nominal Kecil

Andi menilai porsi tabungan atau investasi sebesar 20 persen sebenarnya sudah cukup ideal. Namun, nominal tersebut masih bisa ditingkatkan jika kondisi keuangan memungkinkan, terutama bagi mereka yang memiliki target finansial besar.

“Kalau target finansialnya besar dan kondisinya memungkinkan, maka tidak ada salahnya bila porsinya juga diperbesar sampai semaksimal yang mampu kita penuhi,” ujarnya.

Ia mencontohkan kelompok lajang tanpa tanggungan atau masyarakat dengan penghasilan jauh di atas kebutuhan bulanan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan investasi.

Sebaliknya, bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas, pengurangan sementara pada porsi tabungan juga bukan hal yang salah selama kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

“Bukan hal yang haram juga apabila perlu mengurangi porsi menabung atau berinvestasinya misal jadi 10 persen. Jangan menabung dulu bila karena menabung justru bikin kita jadi kesulitan makan,” katanya.