Jakarta – Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menemukan peningkatan impor baja lapis seng atau galvanized (BJLS) asal China yang berdampak pada industri dalam negeri.

Tercatat, sepanjang 2023-2025, impor BJLS asal China mencapai lebih dari 2 juta metrik ton (MT).

Ketua KADI Frida Adiati mengatakan temuan tersebut menjadi dasar bagi pihaknya untuk memulai penyelidikan antidumping terhadap impor BJLS asal China.

“Berdasarkan hasil kajian terhadap kecukupan dan ketepatan bukti awal, KADI menemukan adanya peningkatan impor BJLS asal China yang mengakibatkan kerugian bagi industri dalam negeri,” ujar Frida dalam keterangan resmi, Selasa (15/9).

Penyelidikan tersebut merupakan tindak lanjut permohonan yang diajukan PT Tata Metal Lestari dan PT Arcelormittal Nippon Steel Indonesia yang mewakili industri dalam negeri.

Impor BJLS China Capai 81 Persen

Data KADI mencatat total impor BJLS Indonesia dari seluruh dunia mencapai 2.562.407 MT sepanjang 1 Januari 2023 hingga 31 Desember 2025.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.075.801 MT atau sekitar 81 persen berasal dari China.

Dengan besarnya porsi tersebut, peningkatan impor BJLS asal China menjadi salah satu dasar KADI melakukan penyelidikan untuk mengetahui apakah produk impor tersebut masuk dengan praktik dumping dan menimbulkan kerugian bagi industri dalam negeri.

Produk BJLS yang menjadi objek penyelidikan tercakup dalam sejumlah kode Harmonized System (HS), yakni 7210.49.11, 7210.49.17, 7210.49.18, 7210.49.19, 7212.30.12, 7212.30.13, 7212.30.19, 7225.92.90, dan 7225.99.90 berdasarkan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2022.