JAKARTA – Sejumlah ilmuwan di China tengah mengembangkan proyek ambisius untuk mengkloning yak Tibet, sejenis sapi berbulu panjang yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di Dataran Tinggi Tibet.

Berdasarkan laporan CNN, proyek tersebut dilakukan di laboratorium yang berada di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Para peneliti berharap teknologi kloning mampu menghasilkan kawanan yak yang lebih sehat, subur, dan memiliki kualitas genetik lebih baik dibandingkan populasi sebelumnya.

Selain meningkatkan produktivitas peternakan, proyek ini juga diharapkan menjadi langkah konservasi bagi spesies yak liar yang populasinya terus menurun akibat perubahan iklim dan kerusakan habitat.

Yak Hasil Kloning Pertama Lahir pada 2025

Pemerintah China telah menginvestasikan puluhan juta dolar untuk mengembangkan industri yak di wilayah barat negara tersebut.

Upaya itu membuahkan hasil ketika yak hasil kloning pertama lahir pada Juli 2025. Media pemerintah China menyebut pencapaian tersebut sebagai keberhasilan yang menggabungkan teknologi kloning dengan seleksi genetik.

Para peneliti menargetkan lahirnya lebih banyak yak hasil kloning setiap tahun, dengan sasaran membentuk kawanan yang terdiri dari lebih dari 100 ekor pada 2028.

“Ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah beralih dari keberhasilan sekali waktu menjadi aplikasi skala besar yang stabil,” ujar pemimpin ilmiah proyek sekaligus Direktur Pusat Konservasi Negara untuk Sumber Daya Satwa Liar yang Terancam Punah, Fang Shengguo.