Jakarta — Pap smear merupakan salah satu pemeriksaan penting untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sampel sel dari permukaan leher rahim (serviks) menggunakan sikat khusus, kemudian diperiksa di laboratorium untuk mengetahui adanya perubahan sel yang berpotensi menjadi kanker.

Bersama tes HPV DNA, pap smear menjadi metode skrining kanker serviks yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Kesehatan RI, dan American Cancer Society sesuai pedoman terbaru.

Pemeriksaan ini dinilai sangat penting mengingat kanker serviks masih menjadi salah satu jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Setiap hari, sekitar 56 perempuan Indonesia meninggal akibat penyakit tersebut. Selain itu, sekitar 70 persen kasus baru diketahui ketika telah memasuki stadium lanjut karena pasien tidak menjalani skrining secara rutin.

Padahal, peluang kesembuhan kanker serviks akan jauh lebih besar apabila penyakit ini terdeteksi pada tahap awal. Tingkat harapan hidup lima tahun bagi pasien yang didiagnosis pada stadium dini dapat mencapai lebih dari 90 persen.

Keberhasilan program skrining juga terlihat di sejumlah negara yang menerapkannya secara terorganisir. Islandia dan Finlandia, misalnya, mampu menurunkan angka kematian akibat kanker serviks hingga 80 persen melalui pelaksanaan skrining yang konsisten.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Onkologi Kandungan di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Dr. dr. Tricia Dewi Anggraeni, SpOG(K) Subs.Onk, menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker serviks.