Jakarta — Berendam di mata air panas merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Islandia. Aktivitas ini bukan sekadar relaksasi, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat warga berkumpul, berbincang, dan bersantai bersama.

Tradisi mandi di kolam air panas bahkan telah menjadi identitas budaya negara yang dijuluki “Tanah Api dan Es” tersebut. Dengan sekitar 33 gunung berapi aktif, Islandia memanfaatkan energi panas bumi untuk menghangatkan kolam pemandian alami maupun buatan, meskipun negara itu berada dekat Kutub Utara dengan suhu udara yang dingin.

Melansir Outside, budaya berendam di kolam air panas telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Islandia. Dari anak-anak hingga lansia, banyak warga rutin datang ke kolam pemandian untuk berenang, berbincang, dan bersosialisasi.

Hampir setiap kota di Islandia memiliki kolam air panas. Banyak di antaranya menyatu dengan lanskap alam seperti pegunungan, sungai, lava, hingga air terjun, menjadikan pengalaman berendam semakin unik.

Keunikan budaya mandi di Islandia bahkan diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya pada Desember 2025.

Awal Mula Tradisi Berendam di Islandia

Tradisi ini berawal pada 1952 ketika pemerintah Islandia mewajibkan pelajaran berenang bagi anak-anak. Kebijakan tersebut dibuat karena banyak tragedi tenggelam yang dialami nelayan dan pelaut di negara kepulauan itu.

Seiring waktu, budaya berenang di kolam umum berkembang pesat sepanjang abad ke-20. Aktivitas tersebut kemudian melekat dalam kehidupan masyarakat dan menjadi kebiasaan lintas generasi.

Kini kolam renang air panas di Islandia tidak hanya berfungsi sebagai tempat berolahraga, tetapi juga menjadi ruang berkumpul yang mirip dengan kafe atau pub. Warga sering bertukar cerita, berdiskusi, atau sekadar melepas penat setelah aktivitas sehari-hari.

Biasanya pengunjung akan berenang terlebih dahulu sekitar 200 meter sebelum menikmati waktu bersantai di kolam air panas bersama teman atau pengunjung lain.

Lebih dari 120 kolam air panas alami dan buatan tersebar di Islandia, dengan sekitar 50 di antaranya merupakan mata air panas alami. Setiap lokasi memiliki karakter, suhu, serta pemandangan yang berbeda.