Rosan menegaskan investor pada umumnya tidak menginginkan perubahan yang sulit diprediksi ketika menjalankan kegiatan usaha.

“Mereka juga tentunya pada saat kita berinvestasi, istilahnya we don’t like surprises. Kita tidak suka jika ada hal-hal yang sifatnya tanpa kita bisa prediksi. Semuanya inginnya terukur, terstruktur, dan penuh dengan certainty,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya kepastian dalam iklim investasi. Bagi investor, keputusan menanamkan modal tidak hanya ditentukan oleh potensi keuntungan, tetapi juga oleh stabilitas lingkungan usaha dan kemampuan mengukur risiko.

Realisasi Investasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Capai Rp3.923,2 Triliun

Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga memaparkan realisasi investasi Indonesia selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan angka yang disampaikan Rosan, realisasi investasi selama periode kuartal IV 2024 hingga kuartal III 2026 mencapai Rp3.923,2 triliun.

Sementara itu, realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat sebesar Rp1.539,2 triliun, atau setara dengan 75,4 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.

Investasi selama periode tersebut juga disebut menyerap 2.194.496 tenaga kerja.

Angka penyerapan tenaga kerja itu menjadi salah satu indikator dampak investasi terhadap perekonomian. Selain mendorong aktivitas usaha, penanaman modal dapat membuka kebutuhan tenaga kerja melalui pembangunan fasilitas produksi, perluasan kapasitas bisnis, dan pengembangan sektor industri.