Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan mencari solusi sendiri. Orang tua tetap dapat mendampingi tanpa langsung memberikan jawaban atau menyelesaikan masalah tersebut.

3. Memberikan Kasih Sayang Secara Bersyarat

Anak dapat merasa dirinya hanya disayangi ketika mendapatkan nilai bagus, berprestasi, atau berperilaku sesuai keinginan orang tua.

Kondisi tersebut dapat membuat anak takut gagal dan terus mencari pengakuan dari orang lain.

Orang tua dapat memisahkan perilaku anak dari nilai dirinya. Ketika ada perilaku yang perlu diperbaiki, orang tua tetap dapat menyampaikannya sambil menunjukkan bahwa kasih sayang kepada anak tidak berubah.

4. Menerapkan Aturan yang Tidak Konsisten

Aturan yang berlaku pada hari ini tetapi diabaikan pada hari berikutnya dapat membuat anak bingung. Anak membutuhkan batasan yang jelas dan konsisten agar merasa aman.

Orang tua tidak harus membuat terlalu banyak aturan. Beberapa aturan penting dapat dipilih dan diterapkan dengan tenang serta konsisten.

5. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Ucapan seperti “Mengapa kamu tidak seperti kakak?” atau “Lihat temanmu, dia lebih pintar,” dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.

Kebiasaan membandingkan anak juga dapat memengaruhi rasa percaya dirinya. Karena itu, perkembangan anak sebaiknya dilihat berdasarkan kemampuan dan proses yang sedang dijalaninya.

Orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha serta kemajuan yang telah dicapai anak.

6. Melampiaskan Stres kepada Anak

Anak dapat peka terhadap perubahan suasana hati orang tua. Ketika orang tua sering berteriak, mudah marah, atau menunjukkan stres secara berlebihan, anak dapat ikut merasa cemas.