Jakarta — Konflik Yaman kembali memanas setelah pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi terlibat pertempuran dengan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Bentrokan terbaru berlangsung di sejumlah wilayah Yaman ketika pasukan pemerintah berusaha merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Tank pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi terlihat bermanuver saat bentrokan dengan Houthi di dekat Al-Hazm, Yaman, pada 9 September.

Situasi tersebut menjadi bagian dari eskalasi terbaru dalam konflik Yaman yang sebelumnya relatif mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022. Dalam beberapa hari terakhir, pertempuran kembali meningkat dan melibatkan serangan udara, drone, rudal, serta pertempuran darat.

Pasukan Pemerintah Yaman Serang Posisi Houthi

Pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melancarkan serangan balik terhadap Houthi di sejumlah wilayah. Pemerintah Yaman menyatakan operasi tersebut bertujuan merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok tersebut, termasuk ibu kota Sanaa.

Pertempuran dilaporkan meningkat di provinsi Taiz, Al-Bayda, dan Al-Jawf. Al-Jawf menjadi salah satu wilayah penting karena berada di jalur menuju Sanaa. Pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi juga mengklaim memperoleh kemajuan di sejumlah front.

Pihak pemerintah Yaman bahkan menyatakan akan melanjutkan operasi hingga institusi negara dan kekuasaan pemerintah kembali mencakup seluruh wilayah negara tersebut.

Di sisi lain, Houthi menyatakan telah menahan serangan pasukan pemerintah di Al-Jawf. Kelompok tersebut juga menuduh Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap sejumlah wilayah yang mereka kuasai.

Houthi Balas Serang Wilayah Arab Saudi

Eskalasi tidak hanya terjadi di dalam wilayah Yaman. Houthi juga melancarkan serangan ke wilayah selatan Arab Saudi.

Pada 9 September, serangan Houthi dilaporkan menyasar kota Khamis Mushait, Abha, dan Jazan menggunakan rudal balistik serta drone. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan serangan tersebut menargetkan aset dan infrastruktur nasional.

Serangan tersebut merupakan kelanjutan dari serangan sebelumnya yang menurut otoritas Arab Saudi menyebabkan sedikitnya 73 orang terluka. Sejumlah fasilitas energi dan instalasi terkait infrastruktur juga dilaporkan terdampak.

Arab Saudi kemudian menyatakan akan memberikan respons terhadap serangan tersebut dengan alasan melindungi kedaulatan negara serta warga sipil.

Ketegangan Meluas di Al-Hazm

Al-Hazm menjadi salah satu titik penting dalam eskalasi terbaru. Kota tersebut merupakan ibu kota Provinsi Al-Jawf dan berada di jalur strategis menuju wilayah yang dikuasai pemerintah.

Houthi sebelumnya menuduh Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap sebuah penjara di Al-Hazm. Kelompok tersebut menyebut sedikitnya tujuh orang tewas, termasuk seorang anak, sementara tujuh lainnya terluka. Arab Saudi belum memberikan konfirmasi atas tuduhan tersebut.

Perkembangan di Al-Hazm menjadi semakin penting karena wilayah Al-Jawf berada dalam rangkaian operasi militer terbaru pasukan pemerintah Yaman. Bentrokan di kawasan tersebut memperlihatkan bahwa pertempuran tidak lagi hanya berupa serangan jarak jauh, tetapi juga melibatkan perebutan posisi di darat.

Houthi dan Arab Saudi Kembali Berhadapan

Konflik antara Houthi dan Arab Saudi bukan persoalan baru. Perang saudara Yaman telah berlangsung selama lebih dari satu dekade dan melibatkan sejumlah kekuatan lokal maupun regional.

Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara dan tengah Yaman, termasuk Sanaa. Kelompok tersebut berhadapan dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi serta sejumlah kelompok bersenjata lainnya.

Arab Saudi sebelumnya memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi. Setelah gencatan senjata 2022 mengurangi intensitas pertempuran, Riyadh berupaya menjaga situasi tetap terkendali.

Namun, eskalasi terbaru kembali mengubah kondisi di lapangan. Al Jazeera melaporkan bahwa konflik kini menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata 2022 meredakan sebagian besar pertempuran.

Babak Baru Konflik Yaman Mengancam Jalur Laut

Perkembangan konflik juga mendapat perhatian karena posisi geografis Yaman yang berada di dekat Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Eskalasi di wilayah tersebut berpotensi mengganggu lalu lintas kapal dan perdagangan internasional.

Kekhawatiran semakin besar setelah Houthi mengambil alih kota pelabuhan Mokha atau Mocha di pesisir Laut Merah pada 10 September. Associated Press melaporkan bahwa penguasaan kota tersebut menjadi salah satu keuntungan teritorial terbesar Houthi sejak gencatan senjata 2022.

Reuters juga melaporkan bahwa Houthi kini memiliki kemampuan persenjataan yang semakin beragam, termasuk rudal dan drone, sementara pasukan yang didukung Arab Saudi terus melakukan operasi di sejumlah front di Yaman.

Konflik Yaman Berisiko Berdampak ke Ekonomi Global

Eskalasi di Yaman tidak hanya menyangkut kondisi keamanan di Timur Tengah. Ancaman terhadap jalur pelayaran Laut Merah juga dapat berdampak terhadap perdagangan dan energi dunia.

Perkembangan terbaru bahkan ikut memengaruhi pasar minyak. Reuters melaporkan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) menembus US$100 per barel pada 10 September di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi di kawasan tersebut.

Jika konflik terus meluas, risiko terhadap pelayaran di sekitar Laut Merah dan Bab el-Mandeb dapat semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengiriman serta menambah tekanan terhadap pasar energi global.

Yaman Kembali di Ambang Perang Besar

Rangkaian serangan antara Houthi, pasukan pemerintah Yaman, dan Arab Saudi menunjukkan bahwa situasi yang sebelumnya relatif terkendali kini kembali memasuki fase berbahaya.

Pasukan pemerintah Yaman berusaha memperluas wilayah yang dikuasainya, sementara Houthi memberikan perlawanan dan memperluas serangan hingga ke wilayah selatan Arab Saudi.

Belum dapat dipastikan apakah eskalasi ini akan berkembang menjadi perang besar dalam skala seperti periode awal konflik. Namun, meluasnya pertempuran darat, serangan rudal dan drone, serta meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran membuat perkembangan di Yaman menjadi perhatian serius di kawasan Timur Tengah.