“Meski asap menutup jarak pandang, semangat belajar tidak boleh ikut tertutup,” katanya.

 

Robinson menambahkan, guru perlu memiliki keterampilan tambahan dalam memanfaatkan berbagai perangkat dan platform pembelajaran digital.

 

“Seorang guru harus memiliki keterampilan ekstra, terutama dalam memanfaatkan alat bantu belajar online seperti Zoom Meeting, video call, dan platform pembelajaran digital lainnya,” tuturnya.

 

Selain kemampuan teknologi, kata Robinson, guru juga perlu memiliki literasi pembelajaran yang kuat agar mampu menciptakan proses belajar yang inklusif, interaktif, dan tidak membebani siswa.

 

Sekolah, lanjutnya, juga harus memberikan perhatian kepada siswa yang tidak memiliki perangkat pembelajaran daring maupun akses internet yang memadai. Menurut dia, perlu disiapkan alternatif pembelajaran agar tidak terjadi pengabaian hak belajar bagi sebagian siswa.

 

“Kabut asap boleh memaksa kita belajar dari rumah, tetapi tidak boleh memaksa kita berhenti berpikir kreatif. Sebenarnya ini bukan hal baru karena para guru sudah memiliki pengalaman saat masa Covid-19,” ujarnya.

 

Robinson juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembelajaran dari rumah bukan hanya menjadi tanggung jawab guru dan siswa. Orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi dan mendukung proses belajar anak di rumah.

 

Ia berharap kondisi Karhutla segera dapat diatasi sehingga kegiatan pendidikan dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.

 

“Sembari kita berdoa agar hujan turun dan Karhutla segera berakhir, kita percaya langit kelabu pasti kembali biru,” katanya.