Abu Vulkanik Berisiko bagi Kesehatan

Mengutip Indonesian Humanitarian Coordination Platform (IHCP), NASA menyebut abu vulkanik dapat menimbulkan risiko kesehatan serta mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.

IHCP juga mencatat bahaya kualitas udara dari abu vulkanik berbeda dengan asap kebakaran lahan gambut di wilayah lain Indonesia.

Perbedaannya antara lain terdapat pada karakteristik partikel, pola penyebaran, dan langkah perlindungan yang diperlukan.

Pada 6 September, erupsi eksplosif berkelanjutan Anak Krakatau mulai mereda, meski aktivitas gunung masih berlanjut.

NASA menyebut pola erupsinya kemudian kembali menjadi lebih khas berupa erupsi Strombolian, yang ditandai lontaran abu dan material vulkanik secara berselang.

Bandara-bandara yang sempat terdampak mulai kembali beroperasi pada 8 September.

Namun, hingga saat itu Anak Krakatau masih berada pada status peringatan kedua tertinggi dalam skala nasional, seperti yang telah berlaku sejak awal Juli.