Pertama: periksa model bisnisnya

Tanyakan:

Siapa yang membayar?

Jika jawabannya tidak jelas, berhati-hatilah.

Kedua: periksa legalitasnya

Jangan puas hanya dengan logo OJK, Bappebti, kementerian, atau perusahaan besar yang terpampang di website.

Cari dan verifikasi melalui sumber resmi.

Ketiga: periksa alur uangnya

Coba pahami:

Uang masuk → digunakan untuk apa → menghasilkan nilai dari mana → uang keluar kepada siapa?

Jika rantainya tidak masuk akal, jangan memasukkan uang.

Keempat: periksa kebutuhan deposit

Apakah deposit memang diperlukan untuk membeli produk atau layanan?

Atau deposit hanya diperlukan supaya pengguna bisa mendapatkan “komisi”?

Perbedaannya sangat besar.

Kelima: periksa referral

Referral tidak otomatis berarti scam.

Affiliate juga menggunakan referral.

Tetapi jika keuntungan terbesar justru datang dari merekrut anggota yang harus menyetor uang, risikonya meningkat secara signifikan.

Keenam: periksa teknologinya

Lihat domain, identitas perusahaan, kebijakan privasi, izin aplikasi, dan konsistensi identitas digital.

Tetapi ingat:

HTTPS bukan tanda bahwa sebuah bisnis legal.

HTTPS hanya menunjukkan bahwa komunikasi antara browser dan server menggunakan enkripsi.

Situs scam juga dapat menggunakan HTTPS.

Ketujuh: lakukan pengujian dengan nominal kecil—jika memang modelnya legal dan risikonya dipahami

Namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi:

kemampuan melakukan withdrawal kecil bukan bukti bahwa sebuah platform aman untuk deposit besar.

Justru dalam sejumlah modus scam, pembayaran awal dapat digunakan untuk membangun kepercayaan sebelum korban diminta menyetor lebih banyak uang.

Jangan Jadikan Aplikasi sebagai Mesin Uang, Jadikan Teknologi sebagai Alat

Menurut saya, inilah perubahan pola pikir yang paling penting.

Daripada mencari:

“Aplikasi apa yang bisa menghasilkan Rp100 ribu hari ini?”

pertanyaan yang lebih sehat adalah:

“Skill apa yang bisa saya ubah menjadi Rp100 ribu melalui teknologi?”

Perbedaannya sangat besar.

Dengan aplikasi penghasil reward, pengguna biasanya mendapatkan insentif karena melakukan aktivitas yang telah ditentukan platform.

Dengan skill digital, seseorang dapat menciptakan nilai sendiri.

Misalnya: