KOTA JAMBI – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi menyiapkan aturan tegas terkait larangan penggunaan kendaraan roda dua bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kebijakan tersebut disiapkan sebagai langkah preventif untuk menekan risiko keterlibatan anak di bawah umur dalam kelompok berandalan bermotor dan aksi tawuran yang meresahkan masyarakat.

Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., menyampaikan rencana tersebut saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Gerakan Bersama Berantas Geng Motor dan Mencegah Kenakalan Remaja di Satuan Pendidikan Kota Jambi di Aula BKPSDMD Kota Jambi, Rabu (9/9/2026).

Rakor turut dihadiri Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., Kapolresta Jambi Kombes Pol. Ananto Herlambang, S.I.K., M.M., Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi Mardiansyah, jajaran OPD terkait, serta kepala sekolah SD dan SMP se-Kota Jambi.

Dalam arahannya, Maulana menegaskan bahwa penanganan geng motor, tawuran, kekerasan, perundungan, hingga penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja membutuhkan langkah yang seimbang antara penegakan hukum dan edukasi.

“Kita harus tegas terhadap tindakan yang membahayakan masyarakat. Namun, kita tetap mengedepankan pendekatan edukatif dan pembinaan bagi anak-anak yang masih dapat diarahkan dan diselamatkan,” tegas Maulana.

Pemkot Jambi Siapkan Skema Antar-Jemput Siswa

Rencana larangan siswa SMP membawa motor ke sekolah juga mempertimbangkan kebutuhan mobilitas sekitar 27.000 siswa SMP di Kota Jambi.

Pemkot Jambi mempertimbangkan keterbatasan waktu orang tua untuk mengantar dan menjemput anak. Karena itu, pemerintah kota berencana menggandeng penyedia jasa transportasi untuk menyiapkan solusi antar-jemput siswa.

“Kita akan memanggil Dinas Perhubungan dan organisasi profesi kendaraan online. Kita dorong skema orang tua berlangganan ojek online atau ojek pangkalan untuk antar-jemput anak. Ini memiliki manfaat ganda: menurunkan risiko anak membawa motor sendiri yang berpotensi memicu tawuran, sekaligus menggerakkan perekonomian para pengemudi ojek,” jelas Wali Kota.

Skema tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi orang tua yang tidak memiliki cukup waktu untuk mengantar dan menjemput anak dari sekolah.