Menurut dia, kehadiran bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas Gereja kepada masyarakat terdampak tanpa membedakan latar belakang penerima.
Pemulihan, lanjutnya, juga perlu mencakup aspek lain seperti kebersihan, kesehatan, penguatan kapasitas masyarakat, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa mendatang.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina KWI (Caritas Indonesia), Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, mengatakan hunian tetap diharapkan membantu warga kembali membangun kehidupan dan ketahanan keluarga setelah kehilangan rumah akibat bencana.

Uskup Sibolga Mgr. Fransiskus Tuaman Sinaga menyebut pembangunan hunian tersebut sebagai bagian dari awal baru bagi masyarakat terdampak. Ia menyampaikan apresiasi kepada jaringan Caritas dan para donatur yang mendukung terwujudnya hunian bagi warga terdampak.

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, mengatakan pembangunan hunian merupakan bagian dari proses pemulihan warga setelah kehilangan tempat tinggal.

Sejak fase tanggap darurat hingga pemulihan, Caritas Indonesia berperan sebagai koordinator dan fasilitator berbagai aksi kemanusiaan di wilayah terdampak.
Bantuan Pascabanjir Jangkau 131.158 Jiwa
Pembangunan hunian menjadi salah satu bagian dari respons kemanusiaan Caritas. Hingga 29 Agustus 2026, bantuan tanggap darurat dan pemulihan secara keseluruhan telah menjangkau 131.158 jiwa. Dalam Program Emergency Appeal (EA) 23/2025 di wilayah Sibolga, selain hunian tetap, Caritas juga menjalankan program retrofitting atau perbaikan rumah.