2. Validasi Emosi Anak
Ketika mainan anak diambil oleh orang lain, orang tua dapat membantu anak memahami perasaannya terlebih dahulu.
Misalnya dengan mengatakan, “Kamu tidak suka ya saat temanmu mengambil mainanmu. Lain kali, pegang erat-erat.”
Validasi tersebut dapat membuat anak merasa dipahami dan membantu memberikan rasa tenang. Anak juga dapat memahami bahwa mereka memiliki hak untuk mempertahankan sesuatu yang memang sedang mereka butuhkan.
3. Jelaskan Pentingnya Berbagi
Ketika anak sudah mencapai usia yang tepat, orang tua dapat mulai menjelaskan pentingnya berbagi. Penjelasan sebaiknya dilakukan tanpa membuat anak merasa malu terhadap perasaannya sendiri.
Akan ada situasi ketika anak memang tidak ingin berbagi. Hal tersebut dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membantu anak memahami alasan berbagi.
Orang tua dapat mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Bagaimana perasaanmu jika temanmu tidak mengizinkanmu bermain ayunan?”
Pertanyaan tersebut membantu anak memahami bahwa dirinya tidak selalu mendapatkan semua hal yang diinginkan.
Orang tua juga dapat menunjukkan bahwa berbagi atau bergiliran dapat membuat aktivitas menjadi lebih menyenangkan. Misalnya, “Bukankah akan lebih seru jika adikmu ikut bermain jungkat-jungkit bersamamu?”
4. Berikan Pujian
Memberikan pujian ketika anak mau berbagi atas inisiatif sendiri dapat memberikan dampak positif.
Ketika anak berbagi, orang tua dapat segera mengapresiasi tindakannya dengan pujian yang spesifik. Misalnya, “Ibu senang sekali melihatmu berbagi mainan dengan temanmu!”
Contoh lainnya, “Lihat betapa senangnya adikmu saat kamu memberikan sebagian permenmu kepadanya.”
Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku apa yang mendapatkan apresiasi dari orang tua.

