2. Terbangun tengah malam dengan rasa cemas
Terbangun sesekali pada malam hari merupakan hal yang wajar. Namun, jika kondisi tersebut sering terjadi dan langsung disertai rasa cemas atau berbagai pikiran ketika membuka mata, hal itu patut diperhatikan.
Dokter Archana Shrestha mengatakan seseorang dalam survival mode bisa tidur dalam keadaan tubuh yang sangat lelah, tetapi pikirannya tidak benar-benar berhenti bekerja.
Saat terbangun, pikiran dapat langsung dipenuhi daftar pekerjaan, kekhawatiran tentang masa depan, atau berbagai persoalan yang belum selesai.
Kondisi tersebut juga dapat membuat sistem saraf simpatik, yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres atau ancaman, menjadi lebih aktif.
3. Lebih mudah marah
Belakangan menjadi lebih mudah tersulut emosi, bahkan oleh hal-hal kecil? Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan stres yang berlangsung dalam waktu lama.
Ketika tubuh dan pikiran mengalami tekanan berkepanjangan, seseorang dapat memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap gangguan atau masalah kecil.
Ivelevitch menjelaskan, saat seseorang mengalami stres berat, amigdala yang berperan dalam mendeteksi ancaman dapat menjadi lebih reaktif. Pada saat yang sama, bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi dan pengambilan keputusan, yaitu korteks prefrontal, bisa bekerja kurang optimal.
Akibatnya, persoalan yang biasanya dianggap sepele dapat terasa jauh lebih mengganggu. Seseorang mungkin menjadi lebih mudah kesal, tersinggung, atau marah meski sebenarnya tidak menginginkan hal tersebut.

