Olahraga Tak Hanya Berkaitan dengan Pencegahan Kanker
Manfaat aktivitas fisik tidak hanya dikaitkan dengan pencegahan kanker. Pada pasien yang telah menjalani pengobatan, olahraga juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh dan membantu menekan risiko kekambuhan pada jenis kanker tertentu.
Lim mengatakan manfaat aktivitas fisik dalam menurunkan risiko kekambuhan juga ditemukan pada kanker lain, termasuk kanker kolorektal.
“Ada penelitian ilmiah yang menunjukkan manfaat aktivitas fisik pada kanker lain selain kanker payudara, termasuk kanker kolorektal, terutama dalam membantu menurunkan risiko kekambuhan pada pasien tertentu,” ungkapnya.
Meski demikian, Lim mengingatkan mekanisme biologis yang menghubungkan aktivitas fisik dengan pencegahan kanker masih terus diteliti.
“Jadi, penjelasan mengenai mekanisme tersebut sebaiknya dipahami sebagai mekanisme yang diduga, bukan sebagai satu-satunya mekanisme yang sudah terbukti secara pasti,” kata dia.
Karena itu, olahraga tidak seharusnya dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kanker payudara. Pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, pola hidup sehat, serta faktor risiko lainnya tetap perlu diperhatikan.
Angkat Beban atau Kardio?
Lantas, apakah latihan beban lebih baik dibandingkan olahraga kardio untuk membantu menurunkan risiko kanker?
Lim mengatakan masyarakat tidak perlu memilih salah satunya. Latihan kekuatan maupun aktivitas aerobik sama-sama memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh.
“Yang paling penting sebenarnya bukan memilih satu jenis olahraga saja, tetapi tetap aktif dan melakukannya secara konsisten. Latihan kekuatan atau angkat beban memiliki manfaat tersendiri, sementara aktivitas aerobik atau kardio juga memberikan manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan,” jelasnya.
Dengan demikian, konsistensi berolahraga menjadi hal yang penting. Masyarakat tidak harus terpaku pada satu jenis latihan tertentu. Intensitas olahraga juga perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi fisik masing-masing.
Tidak semua orang harus langsung melakukan latihan dengan intensitas tinggi untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik.
“Yang penting, jenis dan intensitas olahraga harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang,” tegas Lim.
Aktivitas fisik bahkan tetap dapat dilakukan oleh pasien kanker dalam berbagai fase pengobatan, mulai dari sebelum terapi, selama menjalani kemoterapi, hingga setelah operasi. Namun, jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kemampuan masing-masing.
Pasien yang menjalani terapi intensif seperti kemoterapi pun masih mungkin melakukan latihan dengan intensitas tinggi seperti High-Intensity Interval Training (HIIT) apabila kondisi fisiknya memungkinkan.
Namun, jika tubuh belum mampu melakukan latihan intensitas tinggi, seseorang tetap dapat melakukan aktivitas fisik dengan menyesuaikannya dengan kemampuan tubuh.
“Kalau tidak mampu melakukan HIIT, tidak masalah. Pergi ke gym dan melakukan latihan beban saja sudah sangat baik. Yang paling penting adalah konsistensi,” ujar Lim.

