KSP Soroti Ego Sektoral dalam Pembangunan Transportasi

Fadjar menilai target pertumbuhan ekonomi akan sulit dicapai apabila pembangunan moda transportasi masih dilakukan secara parsial dan terjebak dalam ego sektoral.

Menurutnya, transportasi perlu ditempatkan sebagai fondasi perekonomian karena berkaitan dengan produktivitas, daya saing bangsa hingga kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, pengembangan sistem transportasi tidak cukup dilakukan dengan membangun masing-masing moda secara terpisah.

Dibutuhkan penyelarasan regulasi, koordinasi antarlembaga, perencanaan yang terintegrasi, serta harmonisasi pendanaan agar berbagai moda dapat bekerja sebagai satu sistem transportasi nasional.

RUU Sistranas diharapkan dapat menjadi landasan untuk memperkuat integrasi tersebut.

Pembiayaan Transportasi Massal Perlu Lebih Kreatif

Selain integrasi, KSP menyoroti kelembagaan dan pembiayaan sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan transportasi massal.

Fadjar mengatakan pembangunan transportasi membutuhkan investasi sehingga diperlukan harmonisasi pendanaan dan keterlibatan berbagai pihak.

“Kami melihat pembangunan transportasi membutuhkan investasi, di sini kemudian perlu harmonisasi pendanaan dan juga penguatan dari semua pihak untuk menuju sebuah kerja sama antara berbagai pihak yang semakin sehat dengan pembiayaan yang lebih kreatif dan berbasis pada penguatan kawasan yang transit, seperti transit-oriented development (TOD),” ujar Fadjar.

Konsep transit-oriented development atau TOD menjadi salah satu pendekatan yang dinilai dapat mendukung skema pembiayaan transportasi melalui pengembangan kawasan berbasis transit.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan transportasi massal tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan pengembangan kawasan di sekitar simpul transportasi.

KSP berharap RUU Sistranas nantinya dapat menjadi payung yang menyatukan berbagai aspek tersebut sehingga pembangunan transportasi nasional tidak lagi berjalan secara parsial.