Menghormati senior tentu penting. Namun menghormati tidak sama dengan kehilangan kemerdekaan berpikir.

Senior yang baik tidak meminta kader mengikuti semua pikirannya. Ia menawarkan perspektif, memberi pertimbangan, lalu membiarkan kader mengambil keputusan dengan tanggung jawabnya sendiri.

Karena itu, menurut saya keterlibatan senior di GMKI perlu terus diarahkan dari intervensi menuju mentoring.

Bukan menentukan siapa yang harus menjadi ketua, tetapi membantu menyiapkan banyak kader yang layak menjadi pemimpin.

Bukan mengatur komposisi kepengurusan, tetapi meningkatkan kapasitas orang-orang yang akan mengisinya.

Bukan membangun kelompok loyalis, tetapi membangun generasi yang kritis, mandiri, dan berintegritas.

Pada akhirnya, kualitas seorang senior bukan diukur dari seberapa banyak junior yang menurut kepadanya.

Kualitas senior terlihat dari seberapa banyak kader yang menjadi lebih baik karena pernah belajar darinya.

Karena senior bukan kasta. Senior bukan pemilik organisasi. Senior hanyalah orang yang mendapat kesempatan lebih dahulu untuk belajar dan berproses.

Maka konsekuensi moralnya juga sederhana: mereka yang datang lebih dahulu seharusnya membantu mereka yang datang kemudian untuk melangkah lebih jauh.

Kalau kehadiran senior menghasilkan ilmu, kesempatan, keteladanan, daya, dan penguatan, maka senioritas menjadi berkat bagi organisasi.

Tetapi jika senioritas hanya dipakai untuk mengatur, menitipkan kepentingan, membangun pengaruh, atau mempertahankan kendali, kita patut bertanya: