Situasi tersebut kembali mengganggu aktivitas pelayaran di salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.

Sebelumnya, pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk sempat diiringi rencana pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi itu sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan sekaligus memunculkan indikasi kelebihan pasokan (oversupply), sehingga sebagian lonjakan harga minyak akibat perang mulai terkoreksi.

Namun, ketegangan kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata secara efektif telah berakhir menyusul aksi saling serang yang kembali terjadi.

Pasukan AS dilaporkan menyerang sejumlah lokasi di Iran selama dua hari berturut-turut, sementara Teheran melancarkan serangan ke Bahrain dan Kuwait.

Harga Minyak Berfluktuasi

Ketegangan geopolitik tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$80 per barel pada awal pekan.

Namun, hingga Jumat (10/7/2026), harga kembali turun ke kisaran US$76 per barel.

Arab Saudi dan Kuwait Juga Tingkatkan Produksi

Selain UEA, sejumlah produsen minyak utama di kawasan Teluk juga mencatatkan kenaikan produksi sepanjang Juni, meski masih berada di bawah level sebelum konflik.

Menurut IEA:

  • Arab Saudi memproduksi sekitar 7,3 juta bph, meningkat sekitar 900 ribu bph dibandingkan Mei.
  • Kuwait meningkatkan produksi menjadi rata-rata 1,4 juta bph.
  • Irak mencatat produksi sekitar 2 juta bph.

Meski produksi dan ekspor minyak mentah mulai pulih, aktivitas kilang minyak di kawasan Teluk masih berlangsung lebih lambat dibandingkan sebelum perang.