Gelombang Panas di Korea Selatan Semakin Sering Terjadi

Data Korea Meteorological Administration (KMA) menunjukkan rata-rata jumlah hari gelombang panas di Korea Selatan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 19 hari per tahun dalam lima tahun terakhir. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata delapan hari per tahun pada dekade 1970-an.

Jumlah malam tropis juga mengalami peningkatan, dari rata-rata empat malam menjadi 14 malam per tahun.

Hari gelombang panas didefinisikan sebagai hari dengan suhu maksimum sedikitnya 33 derajat Celsius. Adapun malam tropis merupakan kondisi ketika suhu terendah pada malam hari tetap berada di angka 25 derajat Celsius atau lebih.

Gelombang Panas Ekstrem Juga Melanda Eropa

Penerapan sistem peringatan baru di Korea Selatan berlangsung ketika sejumlah negara di Eropa juga tengah menghadapi musim panas ekstrem.

Gelombang panas pada Juni memecahkan rekor suhu di berbagai negara. Menurut data resmi, Prancis mencatat lebih dari 2 ribu kematian berlebih selama gelombang panas pada Juni, serta sekitar 300 kematian akibat suhu tinggi pada akhir Mei.

Menara Eiffel dan sejumlah objek wisata di Paris bahkan sempat ditutup lebih awal pada akhir pekan. Balap sepeda Tour de France juga untuk pertama kalinya dalam sejarah memangkas salah satu etapenya akibat cuaca panas.

Layanan Kelautan Copernicus Uni Eropa menyebut suhu rata-rata lautan pada Juni menjadi yang tertinggi untuk bulan tersebut dan berpotensi kembali memecahkan rekor dalam beberapa bulan mendatang.

Laut yang semakin hangat dapat memperkuat badai tropis sekaligus meningkatkan kandungan uap air di atmosfer yang berpotensi memicu hujan lebat.

Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh kembalinya fenomena El Nino yang meningkatkan suhu permukaan Samudra Pasifik dan umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun.