3. Terlalu Sering Ejakulasi

Frekuensi ejakulasi yang terlalu sering juga dapat menyebabkan sperma tampak lebih encer.

Hal ini terjadi karena tubuh membutuhkan waktu untuk memproduksi kembali cairan semen dan sperma dalam jumlah optimal.

Jika seseorang melakukan masturbasi atau berhubungan seksual beberapa kali dalam sehari, volume serta konsentrasi sperma dapat menurun sementara. Umumnya, kondisi ini membaik setelah tubuh mendapatkan waktu istirahat.

4. Ejakulasi Retrograd

Ejakulasi retrograd terjadi ketika air mani masuk ke kandung kemih, bukan keluar melalui penis saat ejakulasi.

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh gangguan pada otot sfingter kandung kemih.

Akibatnya, volume air mani yang keluar menjadi lebih sedikit dan terlihat lebih encer dibandingkan biasanya.

5. Kekurangan Zinc

Zinc merupakan mineral penting yang berperan dalam pembentukan sperma, sintesis DNA, sistem kekebalan tubuh, serta fungsi reproduksi pria.

Kekurangan zinc dapat memengaruhi kualitas sperma, termasuk membuat air mani tampak lebih encer.

Untuk memenuhi kebutuhan zinc, konsumsi makanan seperti tiram, daging merah, ayam, makanan laut, kacang-kacangan, biji-bijian, produk susu, dan aneka polong-polongan.

Tanda-Tanda Sperma Encer

Beberapa ciri yang dapat menunjukkan sperma lebih encer dari kondisi normal meliputi:

  • Tekstur air mani lebih cair dan kurang kental setelah ejakulasi.
  • Warna sperma tampak lebih bening atau transparan.
  • Volume air mani lebih sedikit dari biasanya.
  • Sperma lebih cepat mencair setelah keluar.
  • Kondisi terjadi berulang dalam waktu lama.
  • Sulit memperoleh keturunan meski rutin berhubungan tanpa kontrasepsi.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Sperma encer umumnya bukan kondisi yang berbahaya dan sering kali hanya bersifat sementara.

Namun, segera konsultasikan dengan dokter apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus, disertai nyeri pada testis, pembengkakan, darah pada air mani, atau jika Anda dan pasangan mengalami kesulitan memperoleh keturunan.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab yang mendasari serta menentukan penanganan yang sesuai.