Pelemahan yang lebih terbatas terjadi pada dolar Singapura yang turun 0,05 persen ke posisi SGD1,284 per dolar AS. Adapun dong Vietnam dan yuan China masing-masing terkoreksi 0,04 persen dan 0,01 persen terhadap dolar AS.

Dolar AS Masih Ditopang Permintaan Safe Haven

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di level 99,415. Meski tidak mengalami perubahan signifikan, mata uang Negeri Paman Sam masih mendapat dukungan dari permintaan aset safe haven.

Permintaan terhadap dolar AS kembali meningkat setelah upaya Presiden AS Donald Trump untuk mendorong perdamaian di Timur Tengah menghadapi tantangan baru.

Milisi Hizbullah yang didukung Iran dilaporkan menolak gencatan senjata baru di Lebanon pada Kamis. Di sisi lain, Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

Peningkatan ketegangan geopolitik, termasuk aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir, turut mendorong harga minyak mentah Brent bertahan di atas level US$90 per barel.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, ruang penguatan bagi sebagian besar mata uang Asia menjadi semakin terbatas.

Meski demikian, rupiah masih mampu mencatatkan penguatan tipis dan menjadi salah satu dari sedikit mata uang Asia yang bergerak positif pada perdagangan pagi ini.