Saat diwawancarai, Arif yang mengaku sebagai sopir tersebut mengatakan, dikantor sudah tidak ada aktivitas semenjak Februari 2026 karena pekerjaan proyek sudah selesai.
Sikapnya dingin tidak bersahabat. Meski demikian, dirinya beberapa kali menanyakan “lokasi proyek yang dimana yang mau dipertanyakan?”
“Yang ada hanya anak magang,” kata Arif.
Disatu sisi dirinya mengaku bukanlah pihak yang berwenang untuk menjawab pertanyaan dari media. Disisi lain, Arif beberapa kali mempertanyakan, “lokasi proyek nya yang dimana?”.
Mendapati sikap yang tidak kooperatif, awak media bergegas pamit serta meminta untuk mengisi buku tamu sebagai bukti kehadiran.
Alih – alih mempersilahkan mengisi buku tamu, Arif mengaku tidak ada mengetahui. Disinggung siapa yang bertanggung jawab dikantor, dirinya juga mengaku tidak tahu apa-apa.
Timbul pertanyaan, bagaimana mungkin selevel BUMN Wijaya Karya (WIKA) tidak memiliki manajemen standar official yang pada umumnya ada security, ada resepsionis, humas hingga struktur lengkap layaknya sebuah kantor?
Apakah memang tidak ada staff kantor atau memang ada hal yang sembunyikan? Sampai berita ini diterbitkan, pihak WIKA tidak ada yang bisa dikonfirmasi sama sekali. (Garuda)

