Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6/2026). Berdasarkan Daily Market Update Treasury, rupiah dibuka di level Rp17.960 per dolar AS dan sempat menembus Rp18.000 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda juga ditutup melemah di level Rp17.940 per dolar AS.

Sepanjang tahun berjalan, rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia. Pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan beban subsidi energi serta memperbesar risiko pelebaran defisit fiskal.

Dari sisi eksternal, dolar AS masih bertahan di level tertinggi dalam dua bulan terakhir seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Penguatan dolar mendorong investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen safe haven, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Harga Emas Global Terkoreksi

Di pasar komoditas, harga emas dunia turun ke US$4.431,77 per troy ons pada perdagangan Rabu (3/6/2026), yang menjadi level terendah sejak 26 Maret 2026. Namun pada perdagangan Kamis pagi, harga emas mulai menunjukkan pemulihan dan bergerak ke US$4.449,59 per troy ons.

Penurunan harga emas terjadi setelah indeks dolar AS menguat ke level 99,529 dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS meningkat. Yield US Treasury tenor 10 tahun mendekati 4,5%, sedangkan tenor 30 tahun hampir menyentuh 5%.

Kenaikan yield tersebut mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Data tersebut dinilai berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.

Ringkasan Pergerakan Pasar

Instrumen Nilai 1 Jam 1 Bulan YTD
Bitcoin (BTC/IDR) Rp1.146.001.000 -3,05% -16,19% -21,35%
DJIA (USD) 50.687,07 -1,21% +2,40% +5,46%
USD/IDR 18.020,1 +0,53% +3,47% +8,00%
Gold (IDR) Rp2.618.955 +0,24% -0,40% +6,36%

Sumber: Riset Treasury

Meski harga emas global mengalami koreksi, harga emas dalam denominasi rupiah masih menunjukkan ketahanan. Sejak awal tahun, emas tercatat menguat 6,36%, didukung oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan nilai aset emas dalam mata uang domestik.

Harga Emas di Bareksa

Mitra Pengelola Emas Harga Beli Emas Kenaikan 1 Tahun
Treasury Rp2.578.820/gram 42,19%
Pegadaian Rp2.669.000/gram 44,34%
Indogold Rp2.614.572/gram 44,68%
Emas Batangan Antam* Rp2.571.000/gram 33,62%

Sumber: Fitur Bareksa Emas per 4 Juni 2026

Kenaikan harga emas dalam setahun terakhir masih terjaga di berbagai platform investasi emas digital. Berdasarkan data Bareksa per 4 Juni 2026, harga emas Treasury berada di level Rp2.578.820 per gram dengan pertumbuhan 42,19% dalam satu tahun terakhir.

Sementara itu, harga emas di Pegadaian mencapai Rp2.669.000 per gram atau naik 44,34% secara tahunan. Adapun harga emas Indogold tercatat Rp2.614.572 per gram dengan kenaikan 44,68% dalam periode yang sama.

Outlook Emas: Commerzbank Tetap Optimistis

Commerzbank memangkas proyeksi harga emas pada akhir 2026 menjadi US$4.800 per troy ons dari sebelumnya US$5.000 per troy ons. Meski demikian, bank tersebut tetap mempertahankan target harga emas sebesar US$5.200 per troy ons pada akhir 2027.

Optimisme tersebut didasarkan pada sejumlah faktor fundamental yang masih mendukung pergerakan emas, antara lain ketidakpastian geopolitik, potensi perubahan arah kebijakan moneter global, serta tingginya permintaan emas dari bank sentral berbagai negara.

Rekomendasi Investasi dari Treasury

Profil Risiko Pandangan
Konservatif Strong Buy
Moderat Sell
Agresif Strong Sell

Sumber: Riset Treasury

Meski harga emas global sedang mengalami koreksi jangka pendek, prospek jangka panjang logam mulia masih ditopang sejumlah faktor fundamental. Commerzbank tetap mempertahankan target harga emas di level US$5.200 per troy ons pada akhir 2027, yang mencerminkan optimisme terhadap peran emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Namun, Tim Riset Treasury mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih tinggi akibat penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya risiko geopolitik. Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan kebijakan Federal Reserve, sekaligus menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.