Bahkan dari kalangan militer, Ahmad Yani menilai sosok yang lebih layak saat itu adalah Jenderal A.H. Nasution yang memiliki senioritas lebih tinggi.

Meski demikian, Soekarno tetap pada pendiriannya. Menurutnya, petunjuk yang diterimanya mengarah kepada Ahmad Yani sebagai sosok yang harus melanjutkan kepemimpinan nasional jika dirinya berhalangan.

Jenderal yang Dekat dengan Soekarno

Ahmad Yani dikenal sebagai salah satu perwira yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno. Kedekatan itu semakin kuat setelah ia dipercaya menjabat sebagai KSAD pada tahun 1962.

Dalam buku Militer dan Politik di Indonesia (1999), Harold Crouch menyebut Soekarno menaruh kepercayaan besar kepada Ahmad Yani karena dianggap memiliki karakter yang lebih fleksibel dibanding sejumlah jenderal lainnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh ajudan Presiden Soekarno, Maulwi Saelan, dalam buku Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno (2015). Dalam catatannya, Maulwi menyebut Ahmad Yani sebagai salah satu jenderal yang paling disayangi oleh Bung Karno.

Kedekatan tersebut membuat Soekarno sangat terpukul ketika mendengar kabar penculikan dan kematian Ahmad Yani dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).

“Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang paling disayanginya,” tulis Maulwi Saelan.

Harapan yang Tak Pernah Terwujud

Peristiwa G30S menjadi titik balik yang mengubah arah sejarah Indonesia. Ahmad Yani gugur dalam peristiwa tersebut sebelum harapan Soekarno untuk melihatnya menjadi penerus kepemimpinan nasional sempat terwujud.