Sebelumnya, sejumlah investor mencermati pelemahan nilai tukar rupiah, kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto, serta semakin luasnya peran Danantara dalam perekonomian nasional.
Transaksi tersebut juga berlangsung beberapa hari setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah tersebut diambil di luar jadwal reguler sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh sejumlah level terendah baru.
Berdasarkan dokumen penawaran, dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk kebutuhan korporasi umum, termasuk pendanaan investasi serta pembiayaan kembali utang yang telah ada.
Obligasi tersebut dijadwalkan resmi diterbitkan pada 18 Juni 2026 dalam kerangka program Global Medium-Term Notes (GMTN) senilai US$5 miliar atau sekitar Rp89,71 triliun yang dimiliki Danantara Investment Management.
Sejumlah lembaga keuangan internasional dan regional bertindak sebagai penjamin emisi sekaligus pengelola buku dalam transaksi ini, yakni Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered.

