JAKARTA – China mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghormati kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku serta menghindari langkah-langkah yang dapat memicu konflik baru di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan Beijing terus memantau perkembangan situasi yang terjadi dan menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
“China sangat prihatin atas situasi saat ini,” kata Mao Ning, seperti dikutip Anadolu Agency.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah AS melancarkan serangan ke Pulau Qeshm sebagai respons atas dugaan upaya serangan yang dilakukan Iran di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Mao menegaskan bahwa eskalasi konflik tidak akan memberikan manfaat bagi pihak mana pun. Karena itu, China meminta seluruh pihak terkait memanfaatkan peluang perdamaian yang masih terbuka.
“Kami berharap pihak-pihak terkait dapat menghargai peluang perdamaian, menghormati komitmen gencatan senjata, dan menjaga momentum negosiasi,” ujar Mao.
Ia juga menekankan pentingnya penyelesaian sengketa melalui jalur politik dan diplomatik. Menurutnya, gencatan senjata yang menyeluruh perlu segera diwujudkan untuk meredakan ketegangan yang terus berlangsung.
“Serta menciptakan kondisi yang diperlukan untuk pemulihan perdamaian dan ketenangan di Timur Tengah,” imbuhnya.
Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April. Konflik tersebut bermula setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

