Jika memungkinkan, cobalah mengajak atasan berdiskusi secara langsung atau empat mata. Sampaikan dengan sopan mengenai hal-hal yang dirasa menghambat pekerjaan atau perilaku yang sulit diikuti.
Tidak menutup kemungkinan masukan tersebut diterima dengan baik. Namun jika tidak, karyawan tetap perlu mempertahankan batasan profesional dan mencari dukungan dari pihak lain yang relevan.
4. Dokumentasikan Setiap Interaksi Penting
Mencatat dan mendokumentasikan komunikasi maupun keputusan penting merupakan langkah yang bijak, terutama ketika menghadapi lingkungan kerja yang tidak sehat.
Dokumentasi dapat menjadi bukti pendukung apabila suatu saat muncul tuduhan atau permasalahan yang berpotensi memengaruhi reputasi maupun karier.
“Jika Anda merasa aman, sampaikan kekhawatiran Anda kepada HR atau otoritas yang lebih tinggi. Tetapi bersikaplah strategis, beberapa tempat kerja melindungi pemimpin yang toksik,” ujar psikoterapis Israa Nasir, seperti dikutip dari Purewow.
5. Jangan Terlalu Mengambil Hati
Salah satu tantangan terbesar saat menghadapi bos toxic adalah menghadapi ucapan atau komentar yang menyakitkan.
Meski tidak mudah dilakukan, cobalah untuk tidak selalu menganggap setiap perkataan negatif sebagai serangan pribadi. Dalam beberapa kasus, perilaku tersebut bisa dipengaruhi oleh masalah pribadi, rasa tidak aman, atau kebutuhan untuk merasa lebih unggul dibanding orang lain.
Karena itu, tidak semua komentar negatif harus dianggap sebagai cerminan kemampuan diri sendiri.
6. Prioritaskan Kesehatan Mental dan Perawatan Diri
Bekerja dalam lingkungan yang penuh tekanan dalam waktu lama dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fisik.

