Jakarta — Tren perjalanan global mengalami perubahan signifikan pada 2026 dengan meningkatnya popularitas astrotourism atau wisata astronomi. Aktivitas yang sebelumnya identik dengan hobi kalangan tertentu kini berkembang menjadi salah satu tren liburan utama di dunia.

Berdasarkan laporan Far Out Magazine pada Senin (25/5/2026), pencarian destinasi langit gelap meningkat hingga 40 persen dalam periode 2022 hingga 2025.

Fenomena tersebut dipicu semakin sulitnya masyarakat dunia menikmati langit malam yang bersih akibat pertumbuhan penggunaan lampu buatan yang mencapai 9,6 persen per tahun. Saat ini, lebih dari 80 persen populasi dunia hidup di bawah polusi cahaya.

Di kawasan Eropa, hanya sekitar 15 persen masyarakat yang masih dapat melihat galaksi Bima Sakti dari tempat tinggal mereka. Sementara di Amerika Serikat, jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 20 persen.

Kondisi tersebut membuat wisatawan mulai beralih dari destinasi konvensional seperti pantai maupun museum perkotaan menuju kawasan dengan langit malam tergelap untuk menikmati pemandangan bintang secara langsung.

Destinasi wisata astronomi kini tersebar di berbagai wilayah dunia, mulai dari kawasan gurun di Chile hingga perkampungan terpencil di Afrika. Lokasi-lokasi tersebut umumnya memiliki dua syarat utama, yakni langit cerah dan tingkat polusi cahaya yang sangat rendah.

Karakteristik tersebut biasanya ditemukan di daerah dataran tinggi atau wilayah beriklim kering yang mendukung visibilitas langit malam.

Gurun Atacama di Cile menjadi salah satu destinasi terbaik untuk wisata astronomi berkat kombinasi ketinggian wilayah dan tingkat kelembapan yang rendah. Selain itu, Gurun Namib di Namibia dan Wadi Rum di Yordania juga mulai dipadati wisatawan dan penginapan mewah.