Tak hanya kawasan gurun, gunung berapi mati seperti Mauna Kea di Hawaii hingga pulau-pulau kecil dengan populasi minim turut menjadi tujuan favorit pencinta langit malam.

Maladewa dan Cagar Langit Gelap Aoraki Mackenzie di Selandia Baru bahkan disebut sebagai standar emas dalam industri wisata astronomi global.

Wilayah Aoraki Mackenzie diketahui telah menerapkan pembatasan penggunaan lampu secara ketat sejak dekade 1980-an. Kebijakan tersebut menjadikan kawasan itu penting bagi wisatawan, ilmuwan, hingga masyarakat adat Maori.

Di tengah tingginya polusi cahaya di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat, sejumlah kawasan lindung seperti Brecon Beacons dan taman nasional di Utah tetap berhasil menarik perhatian wisatawan pencinta astronomi.

Nilai pasar wisata astronomi tercatat menembus US$1 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat hingga tiga kali lipat dalam tujuh tahun mendatang.

Popularitas wisata ini juga berkaitan dengan meningkatnya tren pemulihan kesehatan mental dan detoks digital dari penggunaan gawai. Di sisi lain, media sosial visual seperti Instagram turut berperan besar dalam mempopulerkan astrofotografi kepada masyarakat luas.

Dalam tren pariwisata berbasis pengalaman, kesempatan menyaksikan gerhana matahari maupun gugusan bintang kini dianggap sebagai pengalaman prestisius bagi banyak wisatawan.

Fenomena tersebut juga mencerminkan keinginan masyarakat modern untuk kembali terhubung dengan alam yang masih alami seperti yang dinikmati generasi terdahulu.