JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengklarifikasi foto dirinya menggunakan tabung oksigen saat berkunjung ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ia menegaskan penggunaan tabung tersebut bukan karena mengalami sesak napas, sebagaimana narasi yang beredar di media sosial.

Melalui akun Instagram pribadinya, @bgsadikin, Budi menjelaskan bahwa foto tersebut memang benar, tetapi narasi yang menyertainya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Ia menggunakan tabung oksigen saat kunjungan pada Jumat (23/10) untuk memberikan edukasi mengenai fasilitas penanganan dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Saya sama sekali tidak merasa sesak pada saat itu,” tulis Budi dalam unggahannya.

Menkes Tinjau Kesiapan Rumah Oksigen di Palangka Raya

Budi menjelaskan, kunjungannya dilakukan untuk memastikan kesiapan Rumah Oksigen yang dikelola Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) serta Bus Oksigen Keliling milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Kedua fasilitas tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat yang terdampak polusi udara, terutama ketika terjadi karhutla yang menyebabkan kualitas udara memburuk.

Menurut Budi, Rumah Oksigen dilengkapi sistem penyaringan udara menggunakan high-efficiency particulate air (HEPA). Fasilitas ini dapat dimanfaatkan masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.

Warga yang mulai mengalami sesak napas dapat mendatangi Rumah Oksigen untuk beristirahat dan memperoleh bantuan oksigen dengan pemantauan tenaga kesehatan. Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien akan dirujuk ke rumah sakit.

“Kalau warga mulai sesak, segera ke Rumah Oksigen terdekat,” tulisnya.

Bus Oksigen Keliling Bantu Warga Terdampak Karhutla

Selain Rumah Oksigen, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyiapkan Bus Oksigen Keliling. Fasilitas ini ditujukan untuk membantu warga yang mengalami kesulitan menjangkau lokasi pelayanan oksigen.

Budi menekankan bahwa ketersediaan oksigen menjadi penting, terutama bagi relawan pemadam kebakaran yang terpapar asap dan polusi udara saat bertugas memadamkan api.

Paparan polusi udara dalam kondisi tertentu dapat mengganggu sistem pernapasan. Karena itu, pemantauan kondisi kesehatan relawan dan tersedianya fasilitas penanganan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko akibat paparan asap karhutla.

Budi juga menyebut saturasi oksigen relawan pemadam kebakaran terkadang turun di bawah 90 persen. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat menandakan kadar oksigen dalam darah yang rendah dan membutuhkan penilaian medis.

Masyarakat Diimbau Tidak Mengabaikan Sesak Napas

Menkes mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan keluhan sesak napas, khususnya ketika polusi udara meningkat akibat karhutla.

Warga yang mengalami gejala tersebut disarankan segera mencari bantuan di fasilitas kesehatan atau fasilitas oksigen terdekat agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Kehadiran Rumah Oksigen dan Bus Oksigen Keliling diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh pertolongan lebih cepat, terutama ketika asap kebakaran hutan dan lahan mengganggu aktivitas serta kesehatan warga.

Masyarakat juga perlu mengurangi paparan asap sebisa mungkin dan mengikuti arahan petugas kesehatan setempat selama kondisi kualitas udara memburuk.