Kebutuhan Emas Domestik
Integrasi PTFI dan ANTAM juga memiliki relevansi dengan kebutuhan pasar domestik. Data World Gold Council mencatat permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai 31,6 ton pada 2025.
Sementara itu, konsumsi emas untuk perhiasan mencapai 16,6 ton. Total kebutuhan dari kedua segmen tersebut mencapai sekitar 48,2 ton, mendekati kapasitas produksi emas PMR PTFI.
Menurut Selly, penguatan rantai nilai tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap mineral strategis. Karena itu, pengembangan PTFI tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara pertambangan, pengolahan, pemurnian, dan industri hilir di dalam negeri.
Percepatan pemulihan produksi Grasberg dan optimalisasi Smelter PTFI Gresik memiliki arti strategis dalam konteks tersebut. Keduanya tidak hanya menentukan kapasitas produksi tembaga, tetapi juga memperbesar potensi mineral ikutan dan produk turunannya untuk diolah serta memberikan nilai tambah di Indonesia.
“Apa yang MIND ID kerjakan hari ini adalah bagian dari perjalanan membangun industri pertambangan yang berdaulat, di mana kekayaan alam yang kita miliki dapat kita kelola dan kembangkan semaksimal mungkin untuk kepentingan bangsa. Sumber daya Indonesia harus menjadi kekuatan bagi generasi hari ini sekaligus fondasi bagi generasi yang akan datang,” kata Selly.
Melalui penguasaan aset strategis, hilirisasi, dan integrasi antar-Anggota Holding, MIND ID terus memastikan mineral Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi berkembang menjadi kekuatan industri dan sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

