“Persiapannya tentu harus matang. Latihan dilakukan terus-menerus selama tiga bulan, termasuk mempersiapkan produk dan prototype. Semuanya dilakukan bersama-sama, baik oleh anak-anak maupun tim guru,” katanya.
Bagi sekolah, pengalaman tersebut justru menjadi bagian terpenting dari keikutsertaan siswa. Kompetisi internasional dinilai dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar menghadapi tekanan, menerima tantangan, berkomunikasi dengan orang lain, sekaligus membangun keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.
Karena itu, target sekolah tidak berhenti pada raihan juara. Jauh lebih penting, para siswa diharapkan pulang membawa pengalaman dan karakter baru setelah berhadapan langsung dengan peserta serta juri dari berbagai negara.
“Harapan kami tentu bukan hanya mendapatkan hasil yang terbaik, tetapi juga karakter anak-anak yang bertumbuh. Mereka harus yakin bahwa anak-anak Jambi,anak-anak Indonesia, di panggung internasional pun bisa berbicara dan menunjukkan diri,” tegas Romualdus.
Ia menambahkan, keberanian berkompetisi dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan global merupakan bekal penting bagi siswa untuk menghadapi masa depan.
“Kalau sudah mempersiapkan diri dengan baik, kita berharap mendapatkan hasil yang bagus. Tetapi yang paling penting, anak-anak membawa pulang spirit dan semangat untuk selalu bisa bersaing bersama orang-orang dari negara lain dalam kompetisi-kompetisi global,” katanya.
Keikutsertaan 12 siswa tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan sekolah terhadap pengembangan potensi anak sejak usia dini. Kreativitas, keberanian tampil, kemampuan bekerja sama, dan semangat berkompetisi diharapkan terus tumbuh melalui pengalaman di tingkat internasional.

