LABUAN BAJO — Penanganan dampak gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 memasuki fase pemulihan. Namun, kebutuhan warga terdampak belum berakhir.
Seiring berakhirnya masa tanggap darurat di Kabupaten Manggarai Barat pada 12 September 2026, Caritas Keuskupan Labuan Bajo mulai menggeser fokus bantuan dari respons darurat menuju pemulihan. Ancaman musim hujan menjadi perhatian baru, terutama bagi warga yang rumahnya rusak dan masih membutuhkan hunian sementara.
Caritas kini memperkuat bantuan berupa tenda, terpal, selimut, tikar, layanan kesehatan hingga pendampingan psikososial.
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Gempa yang digelar secara daring, Senin (14/9/2026) malam. Rapat dipimpin Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Romo Richard Manggu, bersama Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo Rm. Yuvens Rugi, pendamping Karina KWI Toufin, para pastor paroki, pengurus Seksi Caritas Paroki, biarawan-biarawati dan relawan kemanusiaan.
Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi, mengungkapkan pelayanan kemanusiaan selama masa tanggap darurat telah menjangkau sekitar 21.150 jiwa atau 4.335 kepala keluarga (KK).
Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 21.500 jiwa apabila pelayanan tim dalam tiga hari terakhir turut diperhitungkan.
Pelayanan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan pangan. Sebanyak 1.598 jiwa telah mendapatkan layanan kesehatan, sementara pendampingan psikososial atau trauma healing menjangkau 2.135 anak/jiwa.
Selain itu, pelayanan sosial diberikan kepada 415 penyandang disabilitas.

Jelang Musim Hujan, Terpal Jadi Kebutuhan Mendesak
Memasuki masa transisi pemulihan selama satu bulan, Caritas tidak langsung menghentikan respons darurat. Bantuan tetap berjalan, tetapi prioritas mulai bergeser mengikuti kebutuhan warga di lapangan.
Mendekati musim hujan, bantuan hunian darurat menjadi salah satu kebutuhan utama.
Caritas mendorong paroki-paroki mengurangi distribusi sembako secara bertahap dan memperkuat bantuan berupa tenda, terpal, selimut dan tikar. Layanan kesehatan serta pendampingan psikososial juga tetap dilanjutkan.
Persoalan yang kini dihadapi adalah keterbatasan stok terpal.
Stok terpal di Posko Keuskupan Labuan Bajo telah habis. Caritas masih menunggu sekitar 1.500 lembar terpal yang dikirim melalui sejumlah jejaring bantuan, antara lain Amsari, Posko Surabaya dan Karinakas Semarang.
Terpal tersebut diprioritaskan bagi warga yang membutuhkan hunian sementara, termasuk untuk mendukung aktivitas belajar di kelas-kelas darurat.
Caritas juga meminta paroki melakukan pendataan kebutuhan terpal bagi sekolah-sekolah yang kegiatan belajar-mengajarnya masih berlangsung di luar ruangan, baik sekolah yayasan Katolik maupun sekolah negeri.
21.150 Jiwa Sudah Dilayani
Memasuki fase pemulihan, Caritas juga mengubah pola pendataan. Bantuan tidak lagi hanya dihitung berdasarkan jumlah penerima secara kumulatif, tetapi mulai diarahkan menggunakan data berbasis nama dan alamat (by name by address).
Pendamping Karina KWI atau Caritas Indonesia, Toufin, menegaskan pola tersebut diperlukan agar bantuan benar-benar diterima warga yang terdampak dan membutuhkan.
Lima aspek menjadi perhatian dalam pendataan, yakni identitas warga terdampak, kelompok rentan dalam keluarga, jenis dan tingkat kerusakan atau kehilangan aset, kebutuhan paling mendesak, serta kemampuan keluarga untuk melakukan pemulihan secara mandiri.
Selain itu, kelompok rentan yang menjadi perhatian meliputi bayi dan balita, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, warga yang membutuhkan pengobatan rutin, kepala keluarga perempuan serta keluarga yang kehilangan sumber penghasilan.
Pendataan juga diarahkan hanya kepada rumah yang benar-benar mengalami kerusakan akibat gempa.
Dalam penghitungan berbasis hunian, satu rumah dihitung sebagai satu unit hunian terdampak. Jika dalam satu rumah terdapat lebih dari satu KK, seluruh anggota keluarga tetap dihitung dalam satu unit rumah.
Caritas akan menyelaraskan pendataan tersebut dengan data dan kriteria pemerintah yang melibatkan tim teknis bersertifikasi. Jika terjadi perbedaan penilaian kerusakan, warga didorong menggunakan mekanisme sanggahan resmi kepada pemerintah daerah.
Waspadai Longsor dan Bencana Susulan
Di tengah pergeseran fokus menuju pemulihan, kewaspadaan terhadap ancaman bencana susulan juga ditingkatkan.
Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Romo Richard Manggu, menegaskan pesan Bapak Uskup agar seluruh kerja kemanusiaan tetap menempatkan keselamatan jiwa dan perlindungan kelompok rentan sebagai prioritas.
“Prinsip utama kita adalah menyelamatkan kehidupan di atas segala-galanya. Bangunan boleh runtuh, tetapi manusia harus tetap hidup,” tegas Romo Richard.
Memasuki musim hujan, para pastor paroki dan relawan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pergeseran tanah dan longsor, terutama di kawasan hutan maupun kebun.
Warga yang berada di zona berbahaya juga diimbau untuk sementara berpindah ke lokasi yang lebih aman.
Bagi Keuskupan Labuan Bajo, berakhirnya masa tanggap darurat bukan berarti persoalan gempa telah selesai. Ancaman baru justru muncul ketika musim hujan mendekat.
Fase pemulihan kini diarahkan pada tiga kebutuhan utama: hunian sementara yang lebih aman, pendataan warga terdampak yang lebih presisi, serta perlindungan kelompok rentan dari risiko bencana susulan. (GS)

