Jakarta – Kebiasaan berbagi dapat membantu perkembangan kehidupan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya. Namun, tidak semua anak langsung memahami pentingnya berbagi atau bersedia memberikan apa yang dimilikinya kepada orang lain.
Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat mulai mengenalkan konsep berbagi secara perlahan melalui kegiatan sehari-hari. Mengajari anak berbagi penting karena dapat membantu membangun empati, mengembangkan keterampilan sosial, sekaligus mengajarkan anak mengelola emosinya.
Mengajari anak berbagi juga tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Orang tua dapat menggunakan berbagai aktivitas sederhana dan menyenangkan agar anak lebih mudah memahami konsep berbagi dan bergiliran.
Berikut sejumlah cara mengajari anak berbagi yang dapat diterapkan orang tua.
1. Pahami Usia Anak
Orang tua tidak bisa berharap bayi berusia enam bulan dapat berjalan seperti anak berusia 12 bulan. Begitu juga dengan anak berusia satu tahun yang belum tentu mampu mengungkapkan keinginannya melalui kata-kata seperti anak berusia dua tahun, dikutip dari Parents.
Anak berusia di bawah tiga tahun umumnya belum memahami konsep berbagi. Sayangnya, orang tua terkadang langsung menginstruksikan anak untuk berbagi ketika mereka sedang mempertahankan sesuatu yang dianggap sebagai miliknya.
Pada usia tersebut, anak masih mengembangkan pemahaman bahwa dirinya merupakan individu yang terpisah dari orang lain. Mereka juga sedang membangun jati diri, termasuk menanamkan rasa kepemilikan terhadap benda-benda di sekitarnya.
Menurut Cleveland Clinic, orang tua dapat mulai mengajarkan konsep berbagi ketika anak berusia sekitar tiga tahun. Meski demikian, anak pada usia tersebut mungkin masih belum sepenuhnya memahami konsep berbagi dan bergantian.
2. Validasi Emosi Anak
Ketika mainan anak diambil oleh orang lain, orang tua dapat membantu anak memahami perasaannya terlebih dahulu.
Misalnya dengan mengatakan, “Kamu tidak suka ya saat temanmu mengambil mainanmu. Lain kali, pegang erat-erat.”
Validasi tersebut dapat membuat anak merasa dipahami dan membantu memberikan rasa tenang. Anak juga dapat memahami bahwa mereka memiliki hak untuk mempertahankan sesuatu yang memang sedang mereka butuhkan.
3. Jelaskan Pentingnya Berbagi
Ketika anak sudah mencapai usia yang tepat, orang tua dapat mulai menjelaskan pentingnya berbagi. Penjelasan sebaiknya dilakukan tanpa membuat anak merasa malu terhadap perasaannya sendiri.
Akan ada situasi ketika anak memang tidak ingin berbagi. Hal tersebut dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membantu anak memahami alasan berbagi.
Orang tua dapat mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Bagaimana perasaanmu jika temanmu tidak mengizinkanmu bermain ayunan?”
Pertanyaan tersebut membantu anak memahami bahwa dirinya tidak selalu mendapatkan semua hal yang diinginkan.
Orang tua juga dapat menunjukkan bahwa berbagi atau bergiliran dapat membuat aktivitas menjadi lebih menyenangkan. Misalnya, “Bukankah akan lebih seru jika adikmu ikut bermain jungkat-jungkit bersamamu?”
4. Berikan Pujian
Memberikan pujian ketika anak mau berbagi atas inisiatif sendiri dapat memberikan dampak positif.
Ketika anak berbagi, orang tua dapat segera mengapresiasi tindakannya dengan pujian yang spesifik. Misalnya, “Ibu senang sekali melihatmu berbagi mainan dengan temanmu!”
Contoh lainnya, “Lihat betapa senangnya adikmu saat kamu memberikan sebagian permenmu kepadanya.”
Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku apa yang mendapatkan apresiasi dari orang tua.
5. Berikan Contoh
Salah satu cara mengajari anak berbagi adalah memberikan contoh secara langsung. Orang tua merupakan sosok yang menjadi panutan bagi anak, sehingga perilaku berbagi dapat dikenalkan melalui kegiatan sehari-hari.
Orang tua dapat menciptakan kesempatan agar anak melihat langsung praktik berbagi, misalnya:
- berbagi makanan dan camilan;
- menawarkan minuman kepada anak atau orang lain;
- menanyakan kepada anggota keluarga apakah mereka ingin memilih tayangan televisi;
- menawarkan bantuan kepada pasangan untuk mengerjakan tugas rumah tangga.
Dengan melihat contoh tersebut secara langsung, anak dapat perlahan memahami bahwa berbagi merupakan bagian dari interaksi sehari-hari.
6. Ciptakan Kesempatan untuk Berbagi
Orang tua juga dapat menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar berbagi dan bergiliran.
Misalnya, ketika tempat tinggal memiliki fasilitas umum untuk bermain anak yang merupakan sumbangan warga. Menggunakan fasilitas tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk memahami bahwa fasilitas bersama digunakan secara bergantian.
Anak juga dapat diajak memainkan permainan yang membutuhkan kesadaran untuk berbagi dan bergiliran. Permainan tersebut dapat dilakukan ketika berkumpul bersama keluarga.
Kesempatan seperti ini dapat menjadi momen bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa berbagi dan bergiliran tidak selalu berarti kehilangan sesuatu. Sebaliknya, kegiatan bersama dapat menjadi lebih menyenangkan.
7. Jangan Memaksa Anak
Dalam mengajarkan anak berbagi, memaksa bukanlah pendekatan yang tepat.
Anak-anak yang masih kecil sedang berada dalam tahap mengembangkan rasa kepemilikan terhadap barang mereka. Ketika dipaksa untuk berbagi, anak dapat merasa kehilangan kendali atas barang miliknya sehingga memunculkan rasa kesal atau frustrasi.
Anak juga perlu belajar menetapkan batasan yang sehat bagi dirinya sendiri. Memaksa anak untuk selalu berbagi terkadang justru dapat mengaburkan pemahaman mengenai batasan tersebut.
Karena itu, orang tua dapat mengenalkan konsep berbagi secara bertahap, memberikan contoh, serta menciptakan kesempatan bagi anak untuk berbagi tanpa tekanan.
Pada akhirnya, kemampuan berbagi merupakan keterampilan sosial yang berkembang seiring usia dan pengalaman anak. Dengan pendekatan yang sesuai, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa berbagi dan bergiliran merupakan bagian dari hubungan dengan orang lain.

