“Mereka tidak memiliki gigi, jadi mereka memuntahkan enzim yang bertindak seperti asam untuk menguraikan makanan Anda,” kata Griswold.

Enzim tersebut membantu mencairkan makanan sehingga kemudian dapat dikonsumsi oleh lalat.

Beberapa jenis lalat, termasuk lalat hijau dan lalat biru, juga perlu mendapat perhatian karena dapat berpindah dari kotoran atau material organik yang membusuk ke makanan manusia.

Hinggap Sebentar Tetap Bisa Membawa Kontaminan

Meski lalat hanya hinggap sebentar, kemungkinan terjadinya perpindahan mikroorganisme tetap ada.

Pakar keamanan pangan Mark McShane menjelaskan lalat merupakan pemakan yang cepat. Ketika mendarat, bagian mulutnya dapat segera bersentuhan dengan makanan.

Pada saat yang sama, mikroorganisme yang menempel pada tubuh atau kaki lalat juga berpotensi berpindah ke permukaan makanan.

Namun, tingkat risiko tidak selalu sama dalam setiap kondisi. Lamanya lalat berada di makanan, jumlah lalat, jenis makanan, kondisi lingkungan, serta cara penyimpanan makanan dapat memengaruhi risiko kontaminasi.

Kapan Makanan Sebaiknya Dibuang?

Para ahli menyarankan lebih berhati-hati apabila lalat telah berulang kali hinggap atau berada cukup lama pada makanan.

Makanan sebaiknya tidak dikonsumsi apabila terlihat adanya kotoran, telur lalat, belatung, atau tanda-tanda kontaminasi lainnya.

Kehati-hatian juga penting untuk makanan yang akan dikonsumsi kelompok yang lebih rentan terhadap penyakit akibat makanan, seperti anak kecil, lanjut usia, ibu hamil, maupun orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.