JAKARTA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian membawa foto mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9/2026).
Dalam pidatonya, Pezeshkian menyebut Iran menjadi korban terorisme dan mengecam serangan Amerika Serikat serta Israel terhadap negaranya.
Pezeshkian mengangkat foto Khamenei ketika menyampaikan pernyataan mengenai pemimpin Iran tersebut.
“Saya berasal dari Iran di mana pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun,” kata Pezeshkian.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang Majelis Umum PBB ke-81 di tengah perang yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Reuters melaporkan bahwa Pezeshkian dalam pidatonya menegaskan Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan Amerika Serikat.
Pezeshkian Sebut Anak-anak Jadi Korban
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menyoroti korban sipil akibat serangan selama konflik.
“Saya dari Iran, di mana mereka sebenarnya membom sekolah,” ujarnya.
Ia menyebut serangan tersebut turut menewaskan anak-anak.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya mengonfirmasi bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 memicu eskalasi besar di kawasan. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres saat itu menyerukan penghentian permusuhan dan memperingatkan risiko meluasnya konflik.
Iran dan AS Masih Berunding
Di tengah perang, Iran dan Amerika Serikat masih membuka jalur diplomasi. Namun, kedua negara masih memiliki perbedaan dalam pembahasan mengenai cara mengakhiri konflik.
Reuters melaporkan pada 23 September bahwa pejabat Iran mengatakan Teheran dan Washington masih berjauhan dalam sejumlah isu utama, meski pembicaraan diplomatik tetap berlanjut.
Pezeshkian dalam pidatonya di PBB mengatakan Iran terbuka terhadap dialog dan negosiasi, tetapi menolak pembicaraan yang dilakukan di bawah ancaman atau tekanan.
“Kami tidak akan pernah menundukkan kepala,” kata Pezeshkian dalam pidatonya, sebagaimana dilaporkan sejumlah media.
Sementara itu, ketegangan terkait konflik Iran juga masih berdampak pada kawasan, termasuk jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Iran sebelumnya menyatakan siap membuka kembali selat tersebut apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Pernyataan Pezeshkian di PBB menjadi salah satu penampilan diplomatik penting Iran di tengah upaya mencari jalan keluar dari konflik yang dimulai setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

