Presiden Israel Isaac Herzog kembali menegaskan keinginan tersebut dalam sebuah wawancara langka dengan saluran Al Arabiya yang berbasis di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
“Impian saya adalah melihat perdamaian antara Israel dan Arab Saudi. Saya sangat menghormati Putra Mahkota Mohammed Bin Salman,” kata Herzog kepada Al-Arabiya, merujuk pada pemimpin de facto Arab Saudi.
Hubungan resmi dengan Arab Saudi dinilai dapat memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi Israel.
Seperti dikutip dari Brookings, normalisasi hubungan kedua negara dapat memberikan legitimasi besar bagi Israel untuk mengurangi isolasi politiknya di kawasan Timur Tengah.
Langkah tersebut juga berpotensi mengubah paradigma mengenai integrasi Israel di Timur Tengah. Israel dapat memperoleh hubungan yang lebih luas dengan negara-negara kawasan tanpa harus menunggu penyelesaian persoalan kemerdekaan Palestina secara menyeluruh.
“Israel membayangkan bahwa normalisasi dengan Arab Saudi akan meningkatkan kerja samanya dengan ekonomi terbesar di kawasan itu dan berfungsi sebagai pintu gerbang menuju hubungan yang lebih baik dengan negara-negara Arab dan Islam lainnya tanpa membuat konsesi berarti apa pun terkait masalah Palestina,” demikian analisis Robert Mogielnicki, penasihat Timur Tengah yang berbasis di Paris dan peneliti Pusat Kebudayaan Sultan Qaboos untuk tahun 2025-2026.
Karena itu, normalisasi dengan Arab Saudi bukan hanya berkaitan dengan hubungan bilateral kedua negara. Jika terwujud, kesepakatan tersebut berpotensi memperkuat posisi Israel di kawasan sekaligus membuka peluang hubungan yang lebih luas dengan negara-negara Arab dan Muslim lainnya.

