Tetap Fokus pada Jalur Gaza

Al Hayya lahir dan besar di Gaza serta kini memimpin Hamas dari pengasingan.

Ia juga dikenal sebagai negosiator utama dalam berbagai pembahasan mengenai gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Perannya di Hamas meningkat setelah tewasnya Yahya Sinwar dan mantan kepala biro politik Hamas Ismail Haniyeh pada 2024.

Pengamat: Tidak Akan Mengubah Arah Hamas Secara Drastis

Peneliti senior ECFR Hugh Lovatt menilai terpilihnya Al Hayya tidak akan mengubah struktur internal Hamas secara signifikan.

Menurutnya, Al Hayya merupakan sosok yang merepresentasikan kesinambungan kepemimpinan sebelumnya.

“Dia adalah kandidat yang sangat mewakili kesinambungan. Dia adalah wakil kepala di Gaza di bawah Sinwar dan telah dekat dengan kepemimpinan senior untuk beberapa waktu,” kata Lovatt.

Lovatt juga menilai Al Hayya lebih pragmatis dibandingkan sejumlah tokoh lain di Hamas.

“Tentu ada tokoh-tokoh yang lebih garis keras di dalam kelompok tersebut dan Al Hayya telah membuktikan dirinya sebagai seorang pragmatis selama negosiasi gencatan senjata dengan Israel.”

Ia menambahkan bahwa tidak ada indikasi Hamas akan sepenuhnya berada di bawah kendali Iran, meskipun Al Hayya memiliki hubungan baik dengan Teheran.

Apa Dampaknya bagi Gaza?

Para pengamat menilai kepemimpinan Al Hayya berpotensi menjaga kesinambungan strategi Hamas, terutama dalam negosiasi gencatan senjata dan pengelolaan pemerintahan sipil di Jalur Gaza.

Hingga kini, Hamas masih mempertahankan fungsi administratifnya di Gaza, termasuk layanan kesehatan dan operasi penyelamatan darurat, meskipun kemampuan militernya melemah akibat operasi militer Israel.

Profesor Northwestern University Qatar, Khaled Al Hroub, mengatakan pengangkatan Al Hayya menunjukkan struktur organisasi Hamas masih tetap berjalan.

“Pengangkatan ini menyampaikan dua pesan penting: pertama, struktur dan proses internal Hamas masih utuh dan berfungsi dengan baik meskipun menghadapi berbagai rintangan, termasuk pembunuhan sebagian besar pemimpin politik dan militernya.”

Menurut Al Hroub, dominasi tokoh yang berasal dari Gaza juga menunjukkan fokus organisasi tetap berada pada wilayah tersebut, tanpa serta-merta menandakan perubahan menuju kebijakan yang lebih keras.