Keanekaragaman Hayati yang Rentan

Selat Hormuz yang berada di antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Profesor Aaron Bartholomew dari Universitas Amerika Sharjah menyebut kawasan ini sebagai “mahkota ekologis”.

Menurutnya, wilayah tersebut memiliki tutupan terumbu karang tertinggi di Teluk Persia, terutama di sisi Iran dan sepanjang pesisir selatan. Meski demikian, karang di kawasan ini telah mengalami tekanan akibat kenaikan suhu laut.

Selain terumbu karang, perairan sekitar selat menjadi habitat bagi berbagai spesies seperti lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik, lumba-lumba hidung botol, hingga hiu paus yang mengikuti pergerakan tuna di perairan lepas pantai Qatar.

Di wilayah pesisir Abu Dhabi dan sekitarnya, terdapat hutan bakau serta padang lamun luas yang menjadi rumah bagi populasi dugong terbesar kedua di dunia.

Meski beberapa spesies masih relatif aman dari dampak langsung konflik, para ahli mengingatkan bahwa jika tumpahan minyak mencapai wilayah pesisir, risiko kerusakan ekosistem akan meningkat drastis.

Dampak Tumpahan Minyak terhadap Laut

Pengalaman dari Deepwater Horizon menunjukkan bahwa minyak dapat menyebar ke dalam air, bukan hanya mengapung di permukaan. Gelombang laut mampu memecah minyak menjadi partikel kecil yang tenggelam dan mencemari kolom air.

Bahan kimia beracun dari minyak kemudian dapat diserap oleh ikan melalui insang, serta oleh karang melalui jaringan tubuhnya. Sementara itu, hewan yang bernapas di permukaan seperti lumba-lumba dan penyu menghadapi risiko langsung dari lapisan minyak di air.

Dampak ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi sistem saraf, kekebalan tubuh, hingga kemampuan bertahan hidup hewan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan di laut.

Para ahli menilai, semakin banyak kapal yang tertahan di kawasan konflik, semakin besar pula potensi terjadinya tumpahan minyak yang dapat memperparah kerusakan lingkungan di Selat Hormuz dan sekitarnya.