MENJELANG pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab), dinamika pemilihan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jambi kian terasa menghangat. Di tengah atmosfer kompetisi yang sering kali beririsan dengan tarik-menarik kepentingan, muncul satu gagasan yang patut dicermati secara serius: rekonsiliasi. Gagasan ini mengemuka seiring dengan pernyataan kesiapan Predi Arda Saputra untuk maju sebagai Calon Ketua Umum HMI Cabang Jambi periode 2025–2026.
Bagi sebagian kader, kehadiran Predi bukan semata soal figur baru dalam bursa kandidat, melainkan representasi dari keresahan kolektif atas kondisi internal organisasi. Polarisasi, fragmentasi, dan ego sektoral yang mengendap dalam dinamika cabang telah lama menjadi hambatan serius bagi konsolidasi gerakan. Dalam konteks inilah, misi rekonsiliasi yang diusung Predi menemukan relevansinya.
Rekonsiliasi dalam tubuh HMI sejatinya bukan konsep baru, tetapi kerap luput dari praksis. Ia sering berhenti sebagai jargon dalam pidato-pidato formal, tanpa keberanian untuk diterjemahkan dalam langkah organisatoris yang nyata. Ketika Predi menegaskan bahwa HMI Cabang Jambi adalah “rumah besar bersama”, pernyataan tersebut menyentuh inti persoalan: HMI tidak boleh dikelola dengan logika menang-kalah, apalagi dikuasai oleh sekat-sekat kelompok yang justru menjauhkan organisasi dari tujuan awalnya.

