Semarang terbelah oleh kontur yang jelas. Ada kawasan atas yang berbukit dengan drainase alami relatif baik, dan ada kawasan bawah yang datar, dekat pantai, serta akrab dengan genangan. Di wilayah kedua inilah kondisi tanah nyaris selalu basah sepanjang tahun. Air rob yang naik lewat saluran, hujan yang lambat surut, ditambah penurunan permukaan tanah yang berlangsung bertahun-tahun, menjadikan lapisan tanah di bawah bangunan jarang benar-benar kering. Bagi manusia kondisi itu merepotkan. Bagi rayap tanah, kondisi itu justru mendekati ideal.

Mengapa Kelembapan Tanah Menentukan Segalanya

Rayap tanah yang paling sering ditemukan merusak bangunan di Indonesia berasal dari marga Coptotermes, terutama Coptotermes gestroi dan Coptotermes curvignathus. Tubuh serangga ini berkutikula tipis dan sangat rentan kehilangan cairan. Karena itu koloninya bersarang di dalam tanah dan hanya keluar melalui terowongan lumpur yang mereka bangun sendiri untuk menjaga kelembapan tetap tinggi selama perjalanan mencari makan. Tanah yang lembap secara konstan menghapus hambatan terbesar bagi mereka. Jalur jelajah bisa dipertahankan lebih lama, sarang tidak mudah kolaps, dan aktivitas pencarian selulosa berjalan tanpa jeda musim kering yang berarti.

Di kawasan yang kerap tergenang, air juga mempercepat pelapukan kayu. Kayu yang sudah lembap dan mulai ditumbuhi jamur pelapuk umumnya lebih lunak dan lebih mudah dicerna. Kombinasi tanah basah dan material bangunan yang menyerap air membuat rumah menjadi sumber pangan yang praktis bagi koloni di bawahnya.

Bangunan Tua dan Celah yang Bertambah Seiring Usia

Semarang menyimpan banyak rumah dan ruko berumur puluhan tahun, sebagian dengan struktur kayu yang masih asli. Bangunan seusia itu biasanya dibangun sebelum praktik perlakuan tanah pra-konstruksi menjadi umum. Lantai yang sudah retak halus, nat keramik yang terbuka, pipa yang menembus lantai tanpa sekat rapat, hingga dinding yang mengalami penurunan tidak merata, semuanya menyediakan jalur masuk yang tidak terlihat dari permukaan.