JAKARTA – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia akan membeli bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) dari Amerika Serikat (AS) senilai US$15 miliar atau sekitar Rp253,45 triliun (asumsi kurs Rp16.894 per dolar AS).
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah ditandatangani Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (19/2) waktu setempat.
“Di dalam perjanjian itu telah dimuat secara jelas bahwa untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, maka kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih lebih US$15 miliar. Dari US$15 miliar ini terdiri dari BBM, kemudian LPG dan crude (minyak mentah),” ujar Bahlil dalam konferensi pers yang ditayangkan secara virtual melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (20/2).
Bukan Tambah Impor, Tapi Pengalihan Volume
Bahlil menegaskan pembelian BBM dari AS bukan berarti Indonesia akan menambah total impor energi. Pemerintah hanya mengalihkan sebagian volume pembelian dari negara lain.
“Kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara. Di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun dari beberapa negara di Afrika,” terangnya.
Ia juga memastikan seluruh transaksi akan mempertimbangkan aspek keekonomian yang saling menguntungkan, baik bagi pihak AS dan badan usahanya maupun bagi Indonesia.



