Toyota bahkan mempertimbangkan masuk ke bisnis taksi tanpa pengemudi atau robotaxi melalui kerja sama dengan Waymo, perusahaan teknologi kendaraan otonom yang merupakan bagian dari Alphabet.
Toyota Tak Sepenuhnya Andalkan AI
Dalam pengembangan teknologi otonomnya, Toyota tidak sepenuhnya mengandalkan sistem kecerdasan buatan (AI) yang bekerja secara menyeluruh.
Toyota justru menambahkan sistem pengaman atau guardrail untuk membatasi pergerakan AI yang tidak terduga. Sistem tersebut menggunakan aturan keselamatan yang ditentukan manusia untuk mengendalikan perilaku kendaraan dalam situasi tertentu.
Pendekatan tersebut diklaim dapat membantu mencegah sekitar 60 persen potensi kecelakaan lalu lintas.
“Kami akan mengembangkan teknologi Level 4 dari sudut pandang teknis, namun memasarkannya secara komersial sebagai Level 2++,” kata Kepala Software Development Center Toyota Akihiro Sarada, mengutip Nikkei Asia, Jumat (28/8).
“Kami akan melangkah dengan cara yang memastikan keselamatan sekaligus kejelasan berdasarkan teknologi tersebut,” lanjutnya.
Kejar Persaingan Kendaraan Otonom
Pengembangan kendaraan otonom menjadi bagian dari persaingan industri otomotif global. Toyota menghadapi kompetisi dari sejumlah produsen Jepang lainnya, termasuk Honda dan Nissan, yang juga terus mengembangkan teknologi berkendara otomatis.
Pemerintah Jepang sendiri menargetkan industri otomotif negaranya dapat menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar global kendaraan otonom pada dekade 2030-an.
Kementerian Perhubungan Jepang juga berencana menerbitkan sistem sertifikasi khusus untuk kendaraan dengan teknologi Level 2++ pada tahun ini.

