Jakarta — Seorang bocah berusia 4 tahun asal Skotlandia mengalami stroke hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit selama hampir delapan pekan. Stroke tersebut diduga berkaitan dengan penyakit yang sempat dideritanya sebelumnya.

Olivia Elliot, yang kini berusia 5 tahun, terbangun sambil muntah dan mengeluhkan sakit kepala pada Juni 2025. Saat itu, sang ibu, Rebecca, mengira Olivia hanya mengalami penyakit musiman biasa.

Namun, kondisi Olivia memburuk dengan cepat. Ia terjatuh hingga tidak mampu menggenggam tangan sang ibu. Olivia kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit.

Setelah menjalani CT scan dan serangkaian pemeriksaan lainnya, dokter mendiagnosis Olivia mengalami stroke. Tim dokter menemukan peradangan parah pada salah satu arteri utama yang memasok darah ke lehernya.

Dokter menduga peradangan tersebut disebabkan oleh cacar air yang sempat dialami Olivia pada Desember 2024.

“Saya tidak menyangka anak semuda empat tahun bisa terkena stroke,” ujar Rebecca, melansir New York Post.

Olivia sempat kehilangan kemampuan menggerakkan sisi kiri tubuhnya. Bicaranya menjadi cadel dan salah satu sisi wajahnya terkulai. Ia menghabiskan hampir delapan pekan di rumah sakit sebelum memulai proses pemulihan.

Kondisi Olivia Sebelum Terkena Stroke

Olivia lahir secara prematur, sekitar sembilan minggu lebih awal dari waktu yang ditentukan. Ia juga sempat didiagnosis mengalami cerebral palsy ringan.

Ketika Olivia terjatuh dan tidak mampu menggerakkan tubuh bagian kirinya, kondisi tersebut awalnya diduga berkaitan dengan cerebral palsy.

“Saya bertanya padanya [Olivia], bisakah kamu meraih tangan ibu? Dia tidak bisa melakukannya,” cerita Rebecca.

Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang berbeda. Olivia didiagnosis mengalami stroke.

“Wajahnya sangat lesu. Dia tidak bisa makan atau berbicara,” ujar Rebecca mengenang.

Perlahan, kondisi Olivia mulai membaik setelah menjalani pengobatan. Dokter juga meyakinkan keluarga bahwa stroke yang dialami Olivia tidak berkaitan dengan cerebral palsy. Namun, kondisi yang sudah ada sebelumnya membuat proses pemulihan membutuhkan waktu lebih lama.

Setelah hampir dua minggu dirawat di rumah sakit, Olivia diperbolehkan pulang. Beberapa hari kemudian, ia kembali bersekolah dengan bantuan kursi roda. Rebecca hadir di sekolah sebagai pendamping pribadinya.

Kini, Olivia sudah bisa berjalan sendiri di rumah dengan menggunakan alat bantu. Rebecca percaya fisioterapi yang dijalani Olivia sebelum terkena stroke turut membantunya menghadapi proses pemulihan.

“Karena dia sudah terbiasa dengan fisioterapi dan kunjungan ke rumah sakit, proses pemulihannya berjalan sangat alami. Dia tidak pernah mengeluh. Dia hanya menjalaninya,” tambah Rebecca.